Mapaba PMII, Pembaharuan kaderisasi

Sarang, Narasi Garda Pena – Upaya pembaruan gerakan kader mulai diikhtiarkan oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia di tingkat komisariat. Melalui pelaksanaan MAPABA yang digelar 11–13 Februari 2026, PMII Komisariat Al-Anwar mencoba menata ulang cara kaderisasi agar lebih relevan dengan pengalaman kader muda hari ini.

Kegiatan yang diikuti sekitar 50 peserta tersebut berlangsung di Lorong Gedung MZ dan Hall Gedung MZ. Secara formal, MAPABA tetap berjalan dalam format seremonial kaderisasi dasar. Namun di balik itu, panitia mendorong pendekatan yang lebih dialogis dan reflektif.

Sejak awal kegiatan, peserta tidak hanya diposisikan sebagai penerima materi, tetapi juga diajak membaca realitas sosial di sekitar mereka. Sejumlah sesi diisi dengan ruang berbagi pengalaman mulai dari keresahan mahasiswa, tantangan berorganisasi, hingga peran santri di tengah masyarakat.

Ketua Komisariat Al-Anwar menilai pembaruan kaderisasi menjadi keharusan. Ia mengatakan bahwa pola kaderisasi yang terlalu satu arah membuat kader cepat jenuh dan kurang memiliki ikatan emosional dengan organisasi.

“Kader hari ini butuh ruang bicara. Mereka ingin didengar, bukan hanya diarahkan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa komisariat ingin membangun kaderisasi yang tumbuh dari kesadaran, bukan sekadar kewajiban struktural.

Ketua Pelaksana MAPABA juga mengakui bahwa evaluasi internal menjadi dasar perubahan pendekatan. Menurutnya, kaderisasi tidak boleh berhenti pada formalitas administrasi.

“Kami mencoba membuat kaderisasi terasa dekat dengan kehidupan peserta. Kalau kader merasa terhubung, militansinya tumbuh dengan sendirinya,” katanya.

Pendekatan tersebut menjadi semacam refleksi kritis atas tradisi kaderisasi lama yang kerap menekankan hafalan konsep. Di MAPABA ini, penekanan bergeser pada pemaknaan bagaimana nilai PMII diterjemahkan dalam sikap sehari-hari kader.

Di sela kegiatan, terlihat peserta lebih aktif berdiskusi secara informal. Sebagian duduk melingkar, sebagian lain berbincang santai dengan panitia. Interaksi sederhana itu justru menjadi ruang tumbuhnya kedekatan antar kader.

Baca Juga:  Ukm JQH Adz-Dzauq Sukses Gelar Majelis Shalawat dan Festival Al-Banjari Perdana, Ini Kata Para Peserta

Bagi PMII Komisariat Al-Anwar, pembaruan ini bukan perubahan besar yang instan, melainkan proses bertahap. Mereka percaya gerakan mahasiswa tetap perlu bertumpu pada nilai, namun cara menanamkannya harus mengikuti perkembangan zaman.

Kaderisasi, pada akhirnya, bukan hanya soal melahirkan anggota baru, tetapi menumbuhkan kesadaran gerakan. Dari ruang-ruang perjumpaan yang hangat dan dialog yang jujur, semangat organisasi menemukan bentuknya yang paling manusiawi.

Fiqhi Zulfikar Al-Aziz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *