Maulid Nabi Muhammad Bersama Gus Baha’

maulid nabi bersama gus baha'

Sarang, Narasi Garda PenaPondok Pesantren (PP) Al-Anwar 3 Sarang menyelenggarakan perayaan Maulid Nabi Muhammad saw pada Rabu (10/09) pukul 20.00 WIB. Acara ini sekaligus menjadi momentum pelantikan pengurus baru PP Al-Anwar 3 Sarang periode 2025/2026 serta ajang taaruf bagi para santri baru.

Kegiatan yang dipusatkan di Sport Center atau Gedung Pusat Olahraga STAI Al-Anwar Sarang tersebut dihadiri oleh Rais Syuriyah PBNU sekaligus dosen STAI, KH. Bahauddin Nur Salim (Gus Baha’). Turut hadir pula sejumlah dosen lain, di antaranya Kiai Nur As’ad, S.Pd.I., Kiai Ahmad Sunoko, M.Pd., dan Kiai Syamsudin.

Dalam mauizah-nya, Gus Baha’ menekankan bahwa dalil kebenaran Maulid Nabi menurut adat masyayikh Sarang adalah qodimi diroyah ‘ala al-riwayah, yang berarti mendahulukan logika daripada riwayat.

Diroyah ini supaya diteruskan oleh kang-kang dan mbak-mbak, karena kalau mencari dalil, itu malah jadi masalah,” tutur Gus Baha’.

Menurut beliau, logika kebenaran Maulid Nabi lebih penting daripada dalil hadis yang masih diperdebatkan kesahihan maupun kelemahannya. Lebih lanjut, Gus Baha’ menjelaskan bahwa peringatan Maulid Nabi merupakan wujud kebahagiaan umat Islam dalam menyambut hari kelahiran Rasulullah.

Gus Baha’ juga mengutip kitab Haul al-Ihtifal bi Dzikri Maulidin Nabi karya Abuya Sayid Muhammad Alawi al-Maki yang berbunyi: Maulidun ‘ibarotun ‘anil faroh bimaulidin Nabi Muhammad, wal-afrohu laa yahtaju ilaa dalilin. Artinya, Maulid Nabi Muhammad adalah ungkapan kebahagiaan atas kelahiran Nabi Muhammad, dan kebahagiaan tidak memerlukan dalil.

Angger maulid yo kudu seneng,” ungkap Gus Baha’, yang berarti setiap perayaan Maulid Nabi harus disambut dengan kegembiraan.

Selain kajian yang mendalam, suasana acara juga dipenuhi lantunan salawat dan doa yang menggema dari para santri. Kehadiran ribuan jamaah menambah semarak perayaan yang berlangsung khidmat sekaligus penuh kehangatan. Para santri baru juga terlihat antusias, merasa bahwa momen ini menjadi pintu awal kebersamaan mereka di lingkungan pesantren.

Baca Juga:  Novel Laut Bercerita dan Luka Politik yang Tak Kunjung Usai

Acara ditutup pukul 22.00 WIB dengan doa yang dipimpin langsung oleh Gus Baha’. Usai doa, para santri berkumpul di halaman pondok untuk makan bersama yang dikenal dengan istilah nampanan. Tradisi sederhana ini menjadi simbol persaudaraan dan kekompakan keluarga besar PP Al-Anwar Sarang.

Reportase: Navis Irfan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *