Jejak Dramatis Penyelamatan Sanad: Mengapa Kita Harus Menghargai Kitab Turots

Narasi Garda Pena_ Sport Center Al-Anwar, Sarang, menjadi saksi penyelenggaraan kajian mendalam bertajuk Halaqah Turots: Sebagai Khazanah Keilmuan Pesantren pada Senin malam (22/12) pukul 20.30–22.15 WIB. Panitia menghadirkan Gus Rumail Abbas sebagai narasumber tunggal dalam halaqah ini. Ia membedah urgensi filologi serta sejarah dramatis di balik upaya penyelamatan manuskrip kitab-kitab turots yang sempat hilang.

Mengawali pemaparannya, Gus Rumail memberikan definisi Turots yang merujuk pada pemikiran Dr. Ahmad Mukhtar Umar dalam kitab Lughah al-Arobiya al-Mu’ashiroh bahwa Turots, ialah:  Kullu maa khalafah al-salaf min atharin ilmiyatin wafaniyatin waadabiatin, sawaun kaana maadiyatan ka al-kutub wa al-athar waghairiha  aw ma’nawiyatan ka al-aro  wa al-anmat al-haḍoroh al-muntaqilah jilan ba’da jilin.

“Apapun yang intelektual diwariskan oleh intelektual dimasa lalu. Dari keilmuan, seni, dan sastra. Baik itu berupa benda material seperti athar (buku, manuskrip, dan benda fisik peninggalan sejarah). Maupun berupa benda ma’nawi (immaterial). Seperti; pola pikir, gagasan, dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi,” terjemah Gus Rumail.

Gus Rumail menyinggung pemikiran Aro atau gagasan yang berasal dari orang Barat yang secara kognitif terlihat pintar, tetapi belum tentu mampu bertahan ketika para ahli kitab mengujinya melalui perdebatan dengan metodologi ketat (tahqiq).

“Ketika saya membaca buku literatur orang barat diakui atau tidak mereka secara kognitif pintar. Jadi terkesan meyakinkan, tapi ini jika didebat dengan arek-arek  STAI Al-Anwar apalagi muhaḍarah yang wes tahqiq kitabnya kayaknya ngggak keren-keren amat.” Ujar Gus Rumail

Selanjutnya Gus Rumail membatasi pembahasan Turots di kitab manuskrip seputar fakta hilangnya kitab fisik madzhab di khalayak umum. Beliau mengutip pendapat Syekh Muhammad Abduh Syekh Rasyid Ridho mengenai sulitnya mengakses kitab primer di masa lalu.

Baca Juga:  LKMTD: Tingkatkan Jiwa Leadership bagi Setiap Personal

“Seseorang yang mencari kitab Mudawanah dari Imam Malik atau Al-Um karya imam Syafi’I atau mungkin buku-buku awal dari madzhab Hanafi, itu mirip seperti mencari Al-Qur’an di rumah-rumah orang ateis.”Tutur Gus Rumail

Gus Rumail menjelaskan fakta dramatis hilangnya kitab fisik di kalangan awam seperti Al-Um yang sempat hilang selama hampir seribu tahun. Kitab tafsir Al-Thobari yang baru dikenal luas tahun 1940-an. Hingga Ar-Risalah yang muncul kembali sebelum tahun 1970.

Gus Rumail menjelaskan bahwa keterputusan akses fisik terhadap teks-teks asli selama beberapa abad melahirkan fenomena unik di Indonesia. Ia mengutip pernyataan Muksid Ghozali dari Nurul Jadid Paiton yang menegaskan munculnya otokritik (kritik diri) di kalangan masyarakat nahḍiyin, yang lebih tepat menyebut diri mereka bermadzhab kepada murid-murid Imam Syafi‘i.

“Kita (nahḍiyin) di Indonesia sepertinya  lebih layak jika disebut Syafi’I al-Madzhab, kita tidak bermadzhab Syafi’imadzhab kita madzab muridnya Imam Syafi’I.” Tegas Gus Rumail.

Sebagai penutup, Gus Rumail mengajak para santri untuk menghormati kitab Turots sependek atau setipis apapun karya itu. Sebab di dalam lembaran-lembaran kitab tersebut terdapat jerih payah para intelektual di masa lalu untuk ketersambungan sanad hingga hari ini.

“Jadi mau nggak mau jenengan harus menghormati kitab setipis apapun  itu sependek apapun itu, itu hasil kerja kompilasi para intelektual di masa lalu karena di sanalah kita bisa terhubung dengan Imam Syafi’I.” Pungkas Gus RumailAbbas menutup halaqah pada malam itu.

Reporter: Nafis Irvan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *