Eksistensialisme dalam Pandangan Islam dan Pancasila: Membangun Kesadaran Manusia Beriman dan Berbangsa
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia bukan hanya sekumpulan prinsip politik, tetapi juga cerminan nilai-nilai moral dan spiritual yang selaras dengan ajaran Islam. Nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan dalam Pancasila, sejatinya menggambarkan ajaran Islam yang menempatkan manusia sebagai makhluk beriman dan bermartabat. Islam mengajarkan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat, sedangkan Pancasila mengatur harmoni antara iman dan kebangsaan. Keduanya saling melengkapi, menuntun umat manusia agar menjadi pribadi yang beriman, berilmu, dan bertanggung jawab terhadap sesama serta bangsanya.
Salah satu tokoh Islam modern yang banyak berbicara tentang hubungan iman dan kehidupan sosial adalah Ali Syariati, seorang pemikir dan sosiolog asal Iran.[1] Ia dikenal karena mengembangkan gagasan eksistensialisme Islam, yaitu pandangan yang menekankan peran aktif manusia dalam menentukan makna hidupnya di bawah petunjuk Tuhan.
Secara umum, eksistensialisme berarti paham yang menekankan eksistensi atau keberadaan manusia sebagai makhluk yang bebas dan bertanggung jawab atas tindakannya sendiri. Namun, menurut Syariati, kebebasan manusia tidak boleh lepas dari nilai Ketuhanan. Manusia bukan hanya makhluk yang hidup untuk dirinya sendiri, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral terhadap Tuhan dan masyarakat.[2]
Dengan begitu, eksistensialisme versi Ali Syariati bukan kebebasan mutlak seperti pandangan Barat, melainkan kebebasan yang diikat oleh iman dan nilai-nilai ilahi. Inilah yang membuat pemikirannya sejalan dengan semangat Pancasila, terutama sila pertama dan kedua, yang mengajarkan manusia untuk beriman kepada Tuhan sekaligus menjunjung kemanusiaan yang adil dan beradab.[3]
Dalam pemikirannya, Ali Syariati menjelaskan bahwa manusia punya dua sifat pokok dalam pandangan Al-Qur`an: planeter dan dinamis.
1. Planeter (bersifat bumi)
Artinya manusia berasal dari bumi dan diberi amanah untuk mengelola serta menjaga kehidupan di dalamnya. Allah SWT berfirman:
وَهُوَ الَّذِي أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا
“Dialah yang menjadikan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya.” (QS. Hud: 61)
Ayat ini menegaskan bahwa manusia bukan hanya tinggal di bumi, tapi juga punya tanggung jawab untuk memakmurkannya. Tugas ini mencerminkan nilai Pancasila tentang keadilan sosial dan kemanusiaan yang adil dan beradab, karena manusia wajib menjaga keseimbangan antara diri sendiri, masyarakat, dan alam.
2. Dinamis (bersifat gerak dan perubahan)
Manusia diberi akal, kehendak bebas, dan kemampuan untuk berubah serta memperbaiki keadaan. Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk dinamis, yang harus berjuang mengubah dunia menuju kebaikan. Menurut Syariati, manusia tidak boleh pasrah pada nasib, tapi harus aktif menjadi agen perubahan khalifah di muka bumi.
Seperti disebut dalam firman Allah SWT pada surat Al-Baqarah ayat 30.
إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30)
Dari sini, terlihat bahwa manusia memikul dua tanggung jawab besar: menjaga bumi (planeter) dan memperbaiki kehidupan (dinamis). Inilah bentuk nyata tugas manusia menurut Al-Qur`an, yang selaras dengan semangat Pancasila membangun bangsa dengan iman, kerja, dan keadilan.
Pemikiran ini menentang pemikiran Barat mengenai arti sebuah kebebasan pada manusia. Kebebasan yang diungkapkan oleh Ali Syari’ati bukan kebebasan mutlak tanpa batas, namun kebebasan yang memiliki tujuan, makna, dan amanah. Manusia tidak bisa menerobos batas-batas eksistensi dan kedudukannya sebagai khalifah. Karena dalam perjalanannya, manusia pasti memiliki sebuah rintangan dan hambatan. Menurut Ali Syari’ati, terdapat 4 hambatan yang dapat menghalangi manusia mencapai kesadaran sejati dan tugas mulianya di bumi sebagai khalifah.[4] Diantaranya yaitu:
- Historisme: manusia terjebak dalam masa lalu dan tradisi tanpa mau bergerak maju.
- Sosiologisme: manusia hanya mengikuti arus masyarakat tanpa berpikir kritis atau menilai kebenaran berdasarkan iman.
- Biologisme: manusia hidup hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan kesenangan duniawi, dan melupakan aspek rohani.
- Egoisme: manusia terlalu mencintai diri sendiri dan kehilangan kepedulian terhadap sesama.
Keempat rintangan ini, menurut Syariati, bisa diatasi dengan iman yang sadar, ilmu yang benar, dan tanggung jawab sosial.[5]
Nilai-nilai tersebut memiliki keselarasan dengan Pancasila, terutama sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa dan sila kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Pancasila mengajarkan bahwa manusia tidak hanya makhluk individu, tetapi juga makhluk sosial yang harus hidup dalam kesadaran Ketuhanan dan kemanusiaan. Dengan begitu, kebebasan yang dimiliki manusia tidak boleh digunakan sesuka hati, melainkan harus diarahkan untuk menegakkan keadilan, menghargai sesama, dan mengabdi kepada Tuhan. Artinya, eksistensi manusia yang sejati adalah ketika ia mampu menyeimbangkan hubungan dengan Allah, dengan dirinya sendiri, dan dengan masyarakat, sebagaimana tujuan penciptaannya menurut ajaran Islam.[6]
[1] Notonagoro, Pancasila Secara Ilmiah Populer, (Jakarta: Balai Pustaka, 1983), hlm. 10
[2] Ali Syariati, Humanisme Antara Islam dan Mazhab Barat, (Bandung: Mizan, 1992), hlm. 45.
[3] Suyadi, “Eksistensialisme dan Nilai-Nilai Kemanusiaan dalam Pancasila,” Jurnal Filsafat Indonesia, Vol. 5 No. 2 (2020): 104.
4 Ali Syariati, Humanisme Antara Islam dan Mazhab Barat, (Bandung: Mizan, 1992), hlm. 53
[5] Ibid., hlm. 58.
6 Suyadi, “Eksistensialisme dan Nilai-Nilai Kemanusiaan dalam Pancasila,” Jurnal Filsafat Indonesia, Vol. 5 No. 2 (2020): 108.


