Nobar Film Pesta Babi, HMI STAI Al-Anwar Sarang Soroti Isu Keadilan Sosial

Sarang, Narasi Garda Pena– Film dokumenter Pesta Babi diselenggarakan oleh Tim Kajian Politik Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) AL-Anwar Sarang di Gedung Maimoen Zubair (MZ) pada Selasa (5/5). Mulai pukul 14.00 WIB mahasiswa/i mulai berdatangan untuk mengikuti kegiatan nonton bareng dan diskusi. Forum ini Menghadirkan narasumber, yakni Sukinah, aktivis perempuan dari gerakan penolakan pabrik semen di Rembang, serta Zaldi Maulana dari Kontras Surabaya.

Film dokumenter yang diputar dalam forum tersebut mengangkat berbagai realitas sosial yang terjadi di Papua, mulai dari persoalan pembangunan, konflik sosial, eksploitasi sumber daya, hingga kehidupan masyarakat lokal yang terdampak oleh berbagai kebijakan. Tayangan tersebut tidak hanya menghadirkan potret ketimpangan sosial, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa untuk melihat persoalan bangsa secara lebih kritis.

Setelah usai menyaksikan Film, Sukinah menegaskan bahwa pengalaman yang tergambar di dalamnya memiliki kemiripan dengan perjuangan masyarakat Kendeng dalam mempertahankan tanah dan ruang hidup mereka.

“Di dalam film tadi, bedanya tidak banyak dengan yang terjadi di Kendeng.”

Ia kemudian menceritakan bagaimana masyarakat harus berhadapan langsung dengan aparat dalam perjuangan tersebut.

“Kami berhadapan dengan ratusan aparat. Bahkan pada 27 Juni sampai terjadi adu jotos dengan aparat.”

Cerita tersebut membuat suasana forum menjadi lebih hening. Banyak peserta tampak menyimak dengan serius ketika pengalaman lapangan disampaikan secara langsung oleh seseorang yang pernah berada di garis perjuangan.

Tidak berhenti pada persoalan konflik agraria, Sukinah juga mengkritik pola pembangunan yang menurutnya sering kali tidak memperhatikan identitas budaya masyarakat setempat.

“Kenapa di Papua dipaksakan harus makan padi, padahal di sana itu makannya sagu.”

Menjelang akhir sesi, ia menyampaikan harapan kepada seluruh peserta, khususnya mahasiswa, agar perubahan sosial juga dimulai dari kesadaran politik masyarakat.

Baca Juga:  Papua, Saat Nasionalisme Terluka : Membaca Sinyal Disintegrasi dalam Teori Howard Wriggins dan Gerakan “All Eyes on Papua”

“Indonesia akan makmur, akan merdeka, jika masyarakat sudah tidak menerima suap saat pemilu.”

Sementara itu, Zaldi menekankan bahwa film yang baru saja disaksikan bukan sekadar tontonan, melainkan gambaran nyata tentang berbagai konflik sosial dan kemanusiaan yang masih terjadi.

“Film tadi menggambarkan miniature konflik yang terjadi di Papua, karena kita menyaksikan penindasan, kekerasan, dan berbagai bentuk ketidakadilan.”

Ia juga mengajak mahasiswa untuk tidak berhenti pada rasa prihatin, tetapi melanjutkannya dengan kesadaran intelektual dan keberpihakan sosial.

“Sesungguhnya kita punya pengetahuan, dan pengetahuan harus didukung oleh kesadaran. Kita sebagai mahasiswa mempunyai kemampuan untuk menganalisis keadaan di sekitar kita.”

Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga solidaritas dan konsistensi dalam gerakan sosial.

“Kelemahan kita adalah mempunyai napas pendek, tidak ada yang benar-benar membela secara konsisten.”

Menurutnya, advokasi dapat dimulai dari berbagai bentuk yang kreatif, termasuk melalui ruang diskusi, kajian, dan film dokumenter.

“Advokasi yang kita lakukan adalah hal yang kreatif seperti menonton film tadi.”

Melalui kegiatan ini yang diselesaikan pada pukul 16.00, mahasiswa tidak hanya diajak menjadi penonton, tetapi juga menjadi pembaca realitas sosial. Walaupun diskusi dilanjut di luar forum. Tetapi cukup menjadi pengingat bahwa kampus bukan sekadar ruang akademik, tetapi juga tempat tumbuhnya kesadaran kritis, solidaritas, dan keberpihakan terhadap persoalan kemanusiaan.


Reporter: Moch Farid Muqorrobin, Faris Afif Amanatusani, M. As’adurrofiq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *