Pementasan “Laron-Laron” Warnai Festival Bahasa dan Teater 2026

Sarang, Narasi Garda Pena – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Anwar Teater Saroengan berkolaborasi dengan UKM Bahasa menggelar pementasan teater bertajuk “Laron-Laron” sebagai bagian dari rangkaian Festival Bahasa dan Pentas Teater 2026 yang berlangsung pada 11–12 Mei 2026 di Auditorium Gedung Maimoen Zubair (MZ).

Festival yang mengusung tema “Language, Technology, and The Contemporary Intellectual Generation” ini menjadi ruang kreatif dan intelektual bagi generasi muda, salah satunya melalui pementasan teater sebagai bentuk ekspresi seni dan bahasa, yang berlangsung pada hari kedua. Penonton internal dari kalangan mahasiswa serta penonton eksternal dari beberapa kampus, di antaranya Teater Saung, Teater Lintang Giri, serta Teater Unirow, turut menghadiri pementasan ini.

Dalam pementasan tersebut, beberapa tokoh tampil, di antaranya Mursyid, Ibu Sepuh, Laron-laron, serta pembantu Ibu Sepuh yang masing-masing memiliki makna simbolis.

Sutradara pementasan, Nailil Muna Al Ikhsani, menjelaskan bahwa tokoh Ibu Sepuh menggambarkan sosok yang mencintai dunia.

“Fungsinya Ibu sepuh itu menggambarkan orang cinta dunia,” ujarnya.

Sementara itu, tokoh Mursyid hadir sebagai simbol yang menunjukkan jalan menuju akhirat.

“Sedangkan Mursyid sebagai simbol penunjuk jalan akhirat,” tambahnya.

Panitia acara, Washil Hifdzi, turut menjelaskan makna dari tokoh laron dalam pementasan tersebut.

“Laron menggambarkan watak manusia, tapi ada salah satu tokoh yang benar-benar mencari kebenaran, bukan seperti yang lain, yang hanya menyepelekan ketika diberi penjelasan oleh sang mursyid,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi antara UKM Bahasa dan Teater Saroengan memiliki keterkaitan yang kuat.

“Sebenarnya munculnya ide colaborasi itu karena wakil ketua UKM Teater dan UKM Bahasa dekat saja. Tapi ketika dikaitkan memang ada hubungannya, karena dunia teater juga tak lepas dari bahasa untuk menyuguhkan drama,” jelasnya.

Baca Juga:  INFO KAMPUS: Tentang Prodi Perbandingan Mazhab

Imam Fathoni menjelaskan bahwa berbagai rangkaian kegiatan mengisi hari pertama festival.

“Ya puisi, seperti bantah-bantahan gitu,” katanya.

Penonton lainnya, Lalu Akyasul Fahmi, mengungkapkan makna dari pementasan teater tersebut.

“Itu kan seperti menggambarkan orang yang untuk terbang tinggi, tapi pada akhirnya jatuh juga dan kembali ke bumi,” ujarnya.

Pementasan “Laron-Laron” ini menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian Festival Bahasa dan Teater 2026 yang tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga refleksi tentang kehidupan dan pencarian makna manusia.

Reporter: Moch Farid Muqorrobin, M. As’adurrofiq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *