Program Daur Ulang Sampah di Pondok Pesantren Al-Anwar 3

Sarang, Narasi Garda Pena – Pengelolaan sampah di Pondok Pesantren al-Anwar 3 Sarang, Rembang, kini memasuki tahap yang semakin terstruktur. Sejak berdirinya Pusat Pengelolaan Sampah (PPS) lima tahun lalu, beberapa program dijalankan untuk menata ulang manajemen sampah di lingkungan pesantren. Mulai dari pemilahan, pengolahan, hingga pendistribusian ulang sampah oraganik maupun anorganik.

Setiap hari, PPS menerima sampah dari tiga instansi – Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Anwar, Pondok Pesantren Al-Anwar 3, dan Yayasan Islam Umar Harun. Volume sampah yang cukup besar membuat proses pengangkutan sampah harus dilakukan dua kali pada masing-masing instansi tersebut.

Setelah terkumpul, sampah-sampah tersebut dipilah berdasarkan jenisnya kemudian di daur ulang sesuai kategorinya baik organik ataupun anorganik. Sampah organik dialokasikan untuk budidaya cacing maggot dan binatang unggas seperti ayam dan bebek, sedangkan sampah anorganik dialokasikan pada 2 lini, yaitu: dijual kembali ke tukang loak atau pedagang rongsokan, dan ada juga yang direproduksi menjadi paving (batu cetak) demi mengurangi volume sampah yang tertimbun banyak dan menunjang pembiayaan selama operasional pengelolaan, termasuk biaya transportasi.

Sistem pemilahan sampah pun dinilai cukup rapi karena dilakukan melalui 2 tahap: tahap pertama yaitu pengangkutan sampah oleh masing-masing instansi, dan tahap selanjutnya ialah penyortiran ulang di PPS Al-Anwar 3. Namun naasnya mekanisme ini masih mengalami beberapa kendala. Seharusnya pemilahan hanya dilakukan dalam satu tahan saja supaya lebih efisien dan tidak terlalu membebani pihak PPS Al-Anwar 3.

Mohammad Ubaidillah Hamim, Kepala PPS mengungkapkan kendala utama dalam pengelolaan sampah di PPS masih berkaitan dengan kesadaran individual untuk memilah sampah dengan baik dan benar. “Tantangan terbesar terkait sampah masih berkisar pada kesadaran individu, bahwa sampah itu kadang masih kurang ideal dari yang diharapkan,” ujarnya. Sekalipun pengawasan telah dilakukan oleh pengurus kebersihan Pondok Pesantren Al-Anwar 3, kesalahan dalam pemilahan sampah masih sering terjadi. “Meskipun kadang masih di bawah pengawasan pengurus kebersihan, itu juga kecolongan,” lanjutnya.

Baca Juga:  Kendala Terselesaikan, STAI Al-Anwar Sukses Adakan Wisuda yang Berkesan

Selain itu, perihal pengelolaan sampah ini juga berkaitan dengan kinerja dari pengurus kebersihan Pondok Pesantren Al-Anwar 3 yang bertugas mengarahkan, mengawasi, serta melaksanakan kegiatan piket kebersihan sebelum ditindaklanjuti oleh pihak PPS Al-Anwar 3.

Maqosidana, Koordinator Pengurus Kebersihan Pondok Pesantren Al-Anwar 3 menjelaskan upaya kegiatan kebersihan yang dilakasanakan di setiap hari. Melibatkan para santri dengan membuat jadwal piket secara terstruktur dan merata. Kegiatan demikian mencakup banyak hal seperti: membersihkan halaman pondok, membuang sampah yang ada di setiap kamar, kamar mandi, tempat yang disediakan tempat sampah, serta beberapa area di sekitar pondok. Piket bersih-bersih lingkungan pondok ini dimulai pada pukul 16:00 WIB hingga menjelang waktu maghrib.

Pengurus Kebersihan Pondok Pesantren Al-Anwar 3 juga telah memodifikasi sistem pemilahan sampah. “Jika sebelumnya para santri melakukan pemilahan sampah di halaman pondok, sistem demikian memakan waktu yang cukup lama dan membuat para santri yang mendapatkan tugas piket kerepotan. Maka dalam sistem baru ini, para santri melakukan pemilahan sampah secara mandiri di kamar mereka masing-masing. Setiap kamar telah difasilitasi tiga jenis tong sampah, yakni residu, nonresidu, dan organik. Perubahan sistem ini bukan tanpa alasan, dengan adanya sistem seperti ini kegiatan akan berjalan dengan lebih efisien dan menghemat waktu” Ucap Maqosidana.

Namun, hal demikian tentunya tidak lepas dari kendala. Salah satu hal yang menjadi kendala dalam upaya ini adalah beberapa santri yang mendapati jadwal piket, namun masih mengikuti UKM di kampus hingga tak ikut serta melaksanakan piket, jumlah anggota kamar yang sedikit, serta adanya oknum yang tidak melaksanakan pemilahan sampah sesuai dengan prosedur yang disediakan. Selain itu, sampah yang masuk ke dalam selokan juga menjadi tantangan besar dalam kegiatan ini. “Kami juga berharap agar pihak pesantren memfasilitasi selokan pondok dengan tutup selokan agar sampah-sampah tidak masuk ke dalam selokan agar mempermudah kegiatan kebersihan” jelasnya. 

Baca Juga:  Nobar dan Diskusi Kritis Warnai Pembukaan UKM Forum Ahadan

Maqosidana juga menerangkan bahwa kesadaran para santri akan pentingnya memilah dan membuang sampah pada tempatnya saat ini berada pada angka persentase 70% dari keseluruhan, namun masih ada beberapa oknum yang masih membuang sampah sembarangan, terutama sampah puntung rokok yang termasuk dari bagian sampah residu yang tidak dapat di daur ulang.

Harapannya, setiap santri semakin memiliki kesadaran penuh terhadap pentingnya menjaga kebersihan serta keindahan alam, tidak hanya sebatas mengetahui teori-teorinya saja namun juga melakukan tindakan nyata, serta menanamkan rasa ikhlas dalam lubuk hati setiap menjalani upaya-upaya yang telah direncanakan sebaik mungkin tersebut demi pelestarian alam dan keutuhan ekosistemnya.

Reporter: M. Zaky Royyan, Jamilus Salah, Dimas, Afif, Syarif, dan Thariq.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *