Sorogan Intensif dan Tantangan Baru UKM: Sudut Pandang ORMAWA Al-Anwar 3
Dalam beberapa bulan terakhir, Pondok Pesantren (PP) Al-Anwar 3 Sarang Rembang mulai menerapkan program baru. Berupa Sorogan Intensif bagi kelas 1 Madrasah Diniyyah Takmiliyyah (MDT). Kebijakan ini untuk membantu mahasantri baru agar lebih memahami kitab kuning secara mendalam. Namun, hadirnya program tersebut menimbulkan implikasi berupa waktu pelaksanaan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) menjadi semakin terbatas. Karena sebagian jam kegiatan kini bertabrakan dengan jadwal sorogan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan penting: bagaimana sudut pandang ORMAWA terhadap keberadaan program baru ini dan dampaknya pada pembelajaran UKM
Pentingnya Sorogan Intensif dan UKM
PP Al-Anwar 3 mulai menerapkan program sorogan intensif sejak beberapa bulan terakhir. Sebagai tindak lanjut kebijakan STAI Al-Anwar untuk memperkuat kemampuan dasar mahasantri baru dalam membaca dan memahami kitab kuning. Program ini bertujuan mendampingi mahasantri yang berasal dari latar belakang pendidikan berbeda. Agar mereka mampu mengikuti perkuliahan berbasis kitab secara optimal.
UKM selama ini menjadi ruang pengembangan minat, bakat, soft skill mahasantri, serta memberikan dampak positif dalam bidang akademik.
“Di UKM banyak hal yang tidak diajarkan saat kuliah. Seperti management pikiran, waktu, tenaga, dan uang. Misalnya, dalam DEMA kita dibentuk untuk mengerti sosiopolitik dan miniatur pemerintahan. sehingga siap terjun ke masyarakat. Selain itu, dalam LPM kita diajak untuk membersamai orang-orang terbawah. Dan diajarkan bagaimana cara mengangkat berita tanpa menyalahi kode etik jurnalistik,” ungkap M. Zaky Royyan sebagai Kementerian Dalam Negeri DEMA sekaligus Pelekad LPM Garda Pena.
Pengaruh Sorogan Intensif terhadap UKM
Pelaksanaan sorogan pada jam sore hari. Sehingga bersinggungan dengan jadwal Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Akibat tumpang tindih jadwal tersebut, sejumlah UKM mengalami hambatan dalam menjalankan kegiatan rutin. Mulai dari menurunnya partisipasi anggota hingga sulitnya mengatur waktu latihan atau rapat. Kegiatan rutin yang biasanya berlangsung setelah perkuliahan. Kini harus menyesuaikan dengan jadwal sorogan.
Selain itu, beberapa pengurus UKM mengaku kesulitan menetapkan jadwal latihan, rapat, maupun program kerja. Karena anggota tidak memiliki waktu luang yang cukup. Beberapa kegiatan bahkan terpaksa ditunda dalam waktu yang sangat terbatas. Situasi ini membuat peran UKM sebagai wadah pengembangan bakat dan kepemimpinan mahasiswa kurang berjalan optimal.
“Ya, sejak diadakannya sorogan intensif pembelajaran UKM menjadi kurang efektif. Terlebih pada pembelajaran vokal yang membutuhkan latihan secara terus menerus dan konsisten,” ujar Fida Imania, selaku Wakil Ketua UKM PSM Ekantika Voice.
Upaya Ormawa
Pernyataan tersebut mendorong pengurus UKM melakukan upaya untuk memaksimalkan pembelajaran di tengah waktu yang terbatas.
“Sebagai pengurus sendiri kami membuat forum interaktif di luar jam pembelajaran. Agar mahasiswa baru tetap mengikuti agenda dengan antusias sebagai bentuk menghargai,” papar Zaky Royyan.
Fida Imania menyatakan, “Dalam PSM, kami hanya mengandalkan pertemuan tiap minggu. Namun, jika ada event yang menuntut untuk latihan lebih intens, maka kami memanfaatkan waktu sepulang MDT untuk berlatih.”
Meskipun demikian, sebagian pengurus memahami bahwa sorogan intensif memiliki tujuan baik bagi peningkatan kemampuan akademik mahasiswa baru.
“Perlu digaris bawahi bahwa sorogan intensif dan UKM bukan merupakan hal yang berseberangan. Karena keduanya bisa berjalan efektif dalam kurun waktu beberapa bulan kebelakang,” pesan Zaky Royyan.
Tantangannya kini terletak pada bagaimana UKM dapat tetap berjalan tanpa mengurangi komitmen mahasiswa terhadap sorogan.
Reporter: Arrisa Rani, Nadia Nailishoba, Habibatus Sholiha, Yafina Aulana


