Empat Kiat Menulis Ala Khilma Anis: Pesan Literasi Dalam Festival Pustaka Stai Al Anwar

Sarang, Narasi Garda Pena Perpustakaan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Anwar menggelar Festival Pustaka pada (13/12) di Gedung Sport Center STAI Al Anwar. Kegiatan ini melibatkan seluruh mahasiswa untuk memperkuat budaya literasi kampus. Festival Pustaka tersebut menghadirkan penulis Khilma Anis sebagai bintang tamu sekaligus motivator kepenulisan.

Dalam sesi wawancara, Khilma Anis menekankan bahwa menulis tidak hanya berkaitan dengan teknik, tetapi juga melibatkan sikap batin dan kesungguhan proses. Ia merumuskan empat prinsip penting dalam menulis, yakni seneng, kenceng, kepareng, dan wilujeng.

“Orang itu kalau seneng mesti langgeng,” ujar Khilma.

Maksudnya, seseorang yang melakukan sesuatu dengan rasa senang cenderung akan bertahan dan konsisten melakukannya. Misal menyukai tema yang mau ditulis. Menurutnya, kebiasaan membaca juga menjadi fondasi utama dalam proses kreatif. Semakin sering membaca, seorang penulis semakin memperkaya bahan tulisannya.

Prinsip kedua, lanjut Khilma, adalah kenceng atau kuatnya tekad. Penulis yang memiliki tekad kuat adalah orang yang tetap menulis. Meskipun dihadapkan pada keterbatasan waktu, kritik, maupun minimnya dukungan. Ia mencontohkan, orang kreatif adalah mereka yang tetap bekerja dan berkarya ketika orang lain telah beristirahat. Hal ini sebagai bentuk kesungguhan dalam berproses.

“Orang kenceng itu walaupun tidak ada waktu, walaupun di pondok waktunya terbatas, dia tetap bisa menyediakan waktu menulis,” katanya.

Selain itu, Khilma juga menekankan pentingnya kepareng, yakni memperoleh restu orang tua dan guru. Menurutnya, keberhasilan sebuah karya tidak hanya bergantung pada proses penulisan dan penerbitan. Tetapi juga oleh penerimaan khalayak yang berada di luar kendali penulis. Oleh karena itu, ia menilai keberhasilan sebuah karya tidak terlepas dari doa dan izin mereka.

Baca Juga:  FORUM AHADAN SUKSES ADAKAN NONTON BERSAMA FILM PESANTREN

“Yang menentukan faktor keberuntungan karya ini setelah pasca ditulis itu adalah restu dari orang tua dan guru,” tuturnya.

Adapun prinsip wilujeng dimaknai sebagai keselamatan dan keberkahan sebuah karya. Khilma menekankan bahwa proses menulis sebaiknya disertai dengan praktik spiritual. Seperti tirakat, riyāḍah, ziarah, dan tawasul kepada para ulama. Agar karya yang dihasilkan bias berumur panjang dan memberi manfaat luas. Ia juga menyarankan agar penulis menjaga kesucian diri, salah satunya dengan menulis dalam keadaan berwudu.

“Jangan sampai punya tulisan tapi tidak di tirakati,” tegasnya.

Kepada penulis pemula, khususnya mahasiswa, Khilma Anis mengingatkan agar tidak hanya memiliki ambisi besar tanpa menghasilkan karya. Ia menilai karya yang sederhana tidak menjadi masalah, asalkan dapat memberi kontribusi bagi dunia literasi. Selain itu, ia menyarankan mahasiswa untuk memiliki satu penulis idola sebagai acuan belajar. Dengan membaca dan memperhatikan karya serta proses kreatif penulis tersebut dari awal debut, mahasiswa dapat belajar menyusun alur, mengembangkan tokoh, dan menyampaikan nilai dalam tulisannya.

Melalui Festival Pustaka ini, Khilma berharap mahasiswa STAI Al Anwar semakin berani memulai langkah kecil dalam dunia kepenulisan dan konsisten berkarya.

“Tidak perlu muluk-muluk, yang penting di-lakoni,” pungkasnya.

Reporter: ‘Aina Tusamma Salsabila, Hasna Fikriyah, Latifah Gangga Rosyida, Imelda Fresti Dwiana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *