Kehidupan Mahasantri yang Padat

Hari-hari seorang mahasiswa-santri baru berjalan padat tanpa jeda. Setelah jamaah subuh ia mengikuti perkuliahan hampir seharian, dilanjut kegiatan UKM pada sore hari. Malamnya diisi talaqqi Al-Qur`an selepas maghrib, dan MDT (Madrasah Diniyyah Takmiliah) wajib setelah isya. Di tengah padatnya aktivitas tersebut, sorogan intensif menjadi tantangan terbesar karena kemampuan akademik pesantren masih belum merata di kalangan mahasiswa-santri baru.

Sorogan intensif merupakan program baru yang mulai dijalankan pada awal tahun ajaran ini. Program ini lahir setelah serangkaian rapat antara pengasuh dan pengurus sebagai tindak lanjut evaluasi pembelajaran pesantren. “Apa yang memotivasi kami mengadakan kegiatan ini? Tak lain dari keinginan Babah sebagai pengasuh, sekaligus bagian dari evaluasi kami,” ujar Pak Dul, koordinator PAS (16/11/2025). Ia menambahkan, “Beberapa kakak kelas kalian masih belum mampu menentukan bentuk sighat dan kalimah dengan tepat. Itu jadi keprihatinan kami.”
Ia juga menegaskan bahwa arahan ini datang langsung dari pengasuh: “Bocah-bocah sing jarang mangkat iku (kuliah), tulung diopeni yo kang.”

Model sorogan intensif adalah satu guru untuk tiga santri, sehingga pembelajaran lebih fokus dan memungkinkan pengulasan materi lebih dalam. Materinya berupa penguatan dan pengulangan dari muhadhoroh wajib, dan dilaksanakan empat hari per minggu. Santri pun diperbolehkan meminta sorogan tambahan jika merasa masih kurang dengan konsekuensi mengorbankan waktu istirahat dan sosial.

Selain sorogan, MDT menjadi program wajib bagi semua santri sebagai wadah utama untuk menunjang kemampuan memahami kitab. Pembelajarannya berlangsung empat hari per minggu dan satu hari digunakan untuk diskusi kitab menurut kapasitas masing-masing santri.

Guru muhadhoroh, Pak Fajri, menegaskan bahwa pendidik tidak sekadar mengajar. “Pendidik itu lebih kompleks daripada pengajar. Kami harus menjadi teladan, pembimbing, sekaligus media mentransfer nilai kebaikan. Kami juga harus memahami psikologis santri,” ujarnya (18/11/2025). Ia menambahkan bahwa perbedaan kemampuan santri menuntut pemantauan perkembangan secara berkelanjutan. Dalam isu kedisiplinan, ia menyatakan, “Kami tidak akan asal memberi stigma nakal. Tidak semua santri benar-benar nakal—kadang ada latar belakang yang memengaruhi.” (18/11/2025).

Baca Juga:  Atas Nama Santri

Dari sisi pelaksanaan, beberapa santri merasakan beban sekaligus manfaat. Kelelahan karena waktu pergaulan dan istirahat berkurang. Namun terbantu karena kebutuhan akademik pesantren mereka diakomodasi. Tantangan lain adalah pembagian kelompok yang belum sepenuhnya proporsional; ada santri yang masih sangat dasar digabung dengan santri yang sudah mahir, sehingga ritme belajar tidak sinkron. Masalah manajemen waktu juga muncul karena pembatasan penggunaan laptop hanya sampai pukul 12 malam. Untuk tambahan waktu dikenakan biaya Rp. 5.000, sementara paginya santri harus tetap mengikuti kegiatan pondok dan perkuliahan.

Dari gambaran tersebut, evaluasi tampak masih diperlukan. Kurangnya kesiapan perencanaan, ketidakseimbangan pembagian kelompok, serta jadwal yang berbenturan dengan beban akademik kampus membuat sebagian santri kewalahan. Pengurus dapat mempertimbangkan pembagian kelompok yang lebih selektif, penjadwalan yang lebih adaptif, serta perhatian terhadap kelelahan mental maupun fisik santri. Penyempurnaan semacam ini diharapkan mampu memaksimalkan tujuan program sekaligus menjaga kenyamanan proses belajar

Reportase: Fiqhi Dzulfikar Al Aziz, Zamakhsyari, Lalu Akyasul Fahmi. Nadzif Luthfi, Hanif, Gunawan, Rizky Fadlur R.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *