Islam yang disalah pahami
Kata islam berasal darai bahasa Arab “salima” yang artinya selmat , damai dan berserah diri. Sedangkan pengertian islam adalah berserah diri kepada allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk dan patuh kepadan-Nya dengan ketaatan, serta menjauhi kesyirikan dan pelakunya. Islam sebagai agama membawa nilai luhur: akal, ilmu, keadilan, kasih sayang, dakn akhlak. al-Qur’an berulang kali mengajak manusia untuk berpikir, merenung, dan menggunakan akal sehat. Karena itu, setiap praktik beragama yang justru mematikan nalar, memelihara kebencian, atau membenarkan ketidakadilan, jelas bertentangan dengan ruh Islam itu sendiri. Islam tidak pernah memerintahkan kebodohan. Nabi Muhammad dikenal sebagai sosok yang bijaksana, lembut, dan rasional. Para ulama klasik pun adalah ilmuwan, filsuf, dan pemikir besar. Artinya, beragama dengan berfikir cerdas adalah bagian dari iman, bukan ancamannya.
Tujuan berpolotik dalam islam , jawabannya normatif , tujua tersebut adalah :pertama , ingin menegakan islam (himâyah al-dîn) dan kedua , mewujutkan kesejahteraan umat (ri’âsah syu’ûn al-ummah) (Rasyid Ridha. Al-Khilâfah aw Al-Imâmah Al-‘Uzhmâ. hal. 35; Shalah Al-Shawi. Al-Wajîz fi Fiqh Al-Khilâfah. hal. 5.) tetapi banyak kejadian aktor -aktor politik intelektual yang memanfatkan agama sebagai cara untuk memperoleh dukungan, dari banyaknya kejadian dapat disimpulakan bahwasannya ada dua hal yang dapat menyebabkan aktor-aktor memanfaatkan agama sebagai kepentingan politik. Pertama adalah lemahnya basis idiologi yang dimiliki oleh kebanyakan partai politikindonesia. Karna kekuatan politik elektoral sangat jarang memilikifondasi yag kuat sehingga menyebabkan partai-partai politik tidak betul- betul memiliki idiologis yang sangat kuat dan jelas. Meski tidak semua partai polotik tidak memiliki basis idiologis yang sangat jelas tapi ada beberapa partai politik yang memiliki asis idiologi yang jelas yang lain hanya bisa dibedakan basis sosialnya saja tapi tidak teruntuk dalam idiologinnya.
kedua, lemanya programmatik yang dimiliki partai partai polotik. Akhirnya banyak masyarakat tidak bisa membedakan program apa yang lagi di usung atau yang akan dijalankan oleh setiap partai politik. Jadi dalam keaadan seperti ini partai- partai akan memanfaatkan potensi politik di dalam identitas untuk mempertegas siapa diri sendiri dan siapa yang lain, sehinga yang paling mudah adalah dimanfaatkan adalah agama.
Mengkritik cara beragama yang keliru justru penting agar Islam tidak disalahgunakan. Kritik seperti ini seharusnya dipahami sebagai upaya koreksi, bukan serangan terhadap keyakinan. Menyebut Islam yang disalah pahami sejatinya adalah peringatan keras: jangan sampai agama yang suci dijalankan dengan cara yang bodoh, kasar, dan tidak berakhlak. Islam tidak membutuhkan pembelaan dengan amarah, tetapi dengan ilmu, akhlak, dan keteladanan. Jika agama dijalankan dengan akal sehat dan hati yang bersih, maka Islam akan kembali tampil sebagai cahaya, bukan sumber perpecahan.
Nurcholish Madjid, yang akrab disapa Cak Nur, adalah salah satu pemikir Muslim Indonesia paling berpengaruh. Ia dikenal karena gagasannya yang menjembatani agama, akal, dan kehidupan modern. Bagi Cak Nur, agama adalah sesuatu yangsangat sakral, tetapi pemahama manusia terhadap agama tidak pernah mutlak.
Menurut Cak Nur, Islam tidak pernah bertentangan dengan akal. Justru, Islam mendorong umatnya untuk berpikir, berdialog, dan mencari ilmu. Iman yang matang bukanlah iman yang menolak pertanyaan, melainkan iman yang tumbuh melalui pemahaman. Ia mengkritik cara beragama yang hanya menekankan simbol, slogan, dan emosi, tetapi mengabaikan substansi moral seperti kejujuran, keadilan, dan kemanusiaan.
Cak Nur juga menegaskan bahwa agama tidak boleh dijadikan politik atau legitimasi kekuasaan. Ketika agama dipakai untuk membenarkan kepentingan kelompok tertentu, maka agama kehilangan fungsi sucinya dan justru menjadi sumber konflik.Islam pada hakikatnya adalah agama yang menjunjung tinggi akal, ilmu, keadilan, kasih sayang, dan akhlak mulia. Al-Qur’an dan teladan Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa beragama tidak boleh mematikan nalar, memelihara kebencian, atau membenarkan ketidakadilan. Karena itu, praktik keagamaan yang kasar, emosional, dan anti-intelektual bertentangan dengan ruh Islam itu sendiri.
Oleh: Ahmad Khanifudin
Daftar Pustaka
QS. Al-Mujadilah [58]: 11 – “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 273 – “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Science: An Illustrated Study (World of Islam Festival Publishing, 1976), hlm. 22.
M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 1996), hlm. 45.
Al-Shawi, Shalah. Al-Wajîz fî Fiqh al-Khilâfah. Kairo: Maktabah al-Manar al-Islamiyyah, 1998.
Ridha, Muhammad Rasyid. Al-Khilâfah aw al-Imâmah al-‘Uzhmâ. Kairo: Al-Manar, 1923.
Nasr, Seyyed Hossein. Islamic Life and Thought. London: Routledge, 1981.
Madjid, Nurcholish. Islam: Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina, 1992.
Quraish Shihab, M. Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan, 1996.
Asyari, M. Fauzan. Politik Islam di Indonesia: Pergulatan antara Agama dan Kekuasaan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2017.
Madjid, Nurcholish. Islam: Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina, 1992.
Madjid, Nurcholish. Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan, 1987.
Madjid, Nurcholish. Cita-Cita Politik Islam Era Reformasi. Jakarta: Paramadina, 1999.
Nasr, Seyyed Hossein. Islamic Life and Thought. London: Routledge, 1981.


