Mentari Untuk Abah
Chaira mengangguk sambil terseyum tak faham maksud Abahnya. Tapi hanya satu yang ia mengerti setelah tawa akan ada derita begitupun sebaliknya. Chaira menatap Abahnya yang memakai kopyah hitam, koko putih berselaraskan dengan sarung hijau tua. Wajah abahnya terlihat damai setelah mengungkapkan apa yang dimaksud hatinya. Chaira menunduk tanpa sebab. Ia tahu Abah belajar makna hidup dari Alam.
“Chaira ingin memberi Mentari untuk abah”
“Chaira adalah Mentari untuk Abah” Jawab Abah Ahmad dengan sebuah seyuman.
Ruangan berbentuk kubus berukuran sekitar 6-7 meter. Bercat putih bersih. Ada sebuah kaca berukuran 100 cm terpajang di dinding dekat pintu. Baju, sarung dan kerudung tampak memenuhi langit-langit pojok atas kamar. Digantung rapi dengan tempat masing-masing. Dua orang santriwati tampak tertidur lelap setelah sekolah selama enam jam dengan istirahat hanya setengah jam. Sebagai siswi yang baru menginjak bangku Aliyah memang lumayan merasa capek dengan mata pelajaran yang semakin sulit diterima diotak dan jam belajar yang bertambah.
Chaira menyandarkan tubuhnya kedinding kamar santriwati yang selalu berangkat sekolah bersamanya itu. Chaira tampak asik membaca buku tentang hukum Indonesia yang ia pinjam dari perpustakaan sekolah. Perlu diketahui Chaira sangat menggemari buku apalagi tentang hukum maupun politik. Hal ini bukan tanpa sebab, Abah Ahmad merupakan dewan dari salah satu partai Islam di Negeri. Kecintaan pada Indonesia membuat Abah Ahmad menularkan semangat perjuangan guna memajukan Indonesia. Sebagai contoh, Abah Ahmad tak jarang memberi pengertian pada santri dan anak-anaknya untuk mencintai Indonesia. Sering juga Abah Ahmad menceritakan kisah pejuang-pejuang Indonesia yang gugur kala memerangi penjajah. Hingga pembahasan tentang politikpun tak jarang membuat Abah Ahmad secara tak sengaja mengeluarkan kritik pada para penguasa yang semena-mena dan para koruptor yang mendapatkan hukuman ringan. Padahal apa yang telah mereka lakukan amat jahat dan dzalim.
“Neng, ndalem loh ada tamu” ucap salah satu santri wati yang duduk sebangku dengannya saat di sekolah.
“Berarti tamunya sudah datang.” Gumamnya lantas berdiri meninggalkan Ayin temanya yang kini menatapnya dengan heran.
Langkahnya semakin cepat mendayu. Chaira tahu ketua partai yang diikuti oleh Abahnya akan datang. Entah kenapa ia merasa sangat penasaran apa yang akan di pinta oleh ketua partai itu. Tubuhnya mematung ketika ruang tamu kini hanya menyisakan mbak-mbak ndalem yang sedang membereskan meja. Matanya menyapu sekitar mencari Abah atau Uminya.
“Nduk,” Sebuah tangan lembut menyentuh pundaknya. Chaira menoleh menatap Abahnya yang kini wajahnya berhiasan seyuman. Seakan tahu apa yang dipikirkan oleh putrinya yang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi.
“Mereka datang meminta Abah untuk mencalonkan diri dalam pemilihan Gubernur mendatang.”
Chaira menunduk. Lidahnya terasa kelu tak mampu berkata apa-apa.
“Abah menerima permintaan itu Nduk,”
Mendengar penuturan Abah Chaira langsung mendongakkan wajahnya menatap mata Abah lekat-lekat. Chaira mencoba menerawang apa alasan Abahnya menerima permintaan itu? Ingin bertanya tapi tak enak hati. Bagaimanapun juga itu adalah keputusan abahnya dan Chaira yakin Abah selalu memiliki pertimbangan yang matang dalam keputusannya
“Anggaplah itu sebagai bakti Abah untuk Negeri ini Nduk. Jika ingin membuat negeri ini maju tidak cukup hanya dengan kritikan dan omong kosong belaka, harus ada aksi terlebih aksi inti didalamnya. Karena kura-kura akan berjalan cepat jika mendorongnya dari dalam maupun luar itulah yang namanya harmonisasi, pelengkap dan kesempurnaan” Chaira mengangguk faham.
Pemilu itu berjalan demikian cepat. Abah Ahmad yang memang sudah dikenal dikalangan masyarakat mendapatkan sambutan bahagia kala memenangkan pemilu tahun ini. Santri berduka cita atas kemenangan yang di peroleh kianya. Bahkan diadakan tahlil Bersama dan makan-makan sebagai rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan. Abah Ahmad hanya diam dan terseyum tipis kala melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah para santrinya. Ia ingin mengajarkan santri untuk cinta pada negeri. Tidak anti akan politik, Karna bagaimanapun juga negeri ini juga tak bisa berjalan tanpa adanya kepemimpinan. Walau sebenarnya hati Abah Ahmad kini terhujam-hujam duri yang telah menancap ke uluhatinya. Ia bagaikan berdiri ditepi jurang menanti seseorang untuk mendorongnya akan kematian. Tanggung jawab yang Abah Ahmad bawa kini tidak sedikit, tapi besar dan semuanya akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT.
Diam-diam Chaira memperhatikan wajah Abahnya. Walau wajah penuh wibawa itu terbalut oleh seyum yang indah tetap saja raut-raut kesedihan terpancar. Chaira diam menunduk mendoakan Abahnya agar semuanya berjalan dengan lancar.


