Mentari Untuk Abah

mentari untuk abah

Ruang persidangan tampak ramai baik dari kalangan elit yang kini menjadi tersangka kasus pencemaran nama baik Abah Ahmad, juga sekaligus pelaku yang sebenarnya Korupsi. Seseorang yang kini memiliki pososi tinggi dalam Negri dan seorang Pengusaha yang saban hari nongol di TV karena kedermawanan teryata adalah seorang pecandu dan pengedar Narkoba. Bukti-bukti yang selama lima tahun ini dikumpulan oleh Chaira dan Harits tak sia-sia. Dengan semua bukti itu lawan tak bisa berkutik dan membantah. Apalagi seorang saksi yang dulu bersaksi bohong tentang Abah kini mengakui semua kejahatannya dan merasa menyesal karena telah memfitnah Abah. Wartawan sibuk mencatat semua yang terjadi dalam ruang sidang. Apalagi sidang ini juga Live di beberapa Stasiun TV ternama, karena melibatkan orang-orang penting di Negri. Setelah hadirnya saksi Chaira maju di depan Hakim. Ia menghirup nafas dalam dengan mata berkaca-kaca.

“Dengan ini saudara Ahmad Syakrani tidak bersalah.” Chaira berhenti sejenak.” Dengan ini Abah saya tidak bersalah!” Ucapnya tegas, membuat beberapa orang yang menghadiri ruang sidang ikut menangis menatap perjuangan seorang putri untuk Abahnya. Penantian yang tak sia-sia. Hakim mengetuk palu menyatakan bahwa Abah Ahmad Syakrani tidak bersalah dan meminta maaf untuk semua keluraga atas kesalahan pengadilan.

“Abah aku bawakan mentari untukmu” Ucapnya. Mendongak menatap ke langit-langit ruangan. Harits maju melangkah membuat seisi ruang sidang memperhatikannya. Ia sedikit mendekat kearah Chaira dan mengabarkan berita yang baru saja Ia terima dari Syahrul

“Neng, Abah baru saja wafat”

Halilintar menyambar tepat ke ulu hatinya. Kemarau yang tadi ia pertahankan kini telah basah dengan banjir yang tak bisa ia tahan. Kakinya terasa lemas. Chaira tak lagi mampu berdiri. Hanya satu kata yang Ia ucapkan hingga membuat semua yang hadir merasa ngilu mendengarnya

Baca Juga:  Membiarkan Belum Tentu Melupakan

“Abah,,, Abah, Apa ini Mentari yang kau tunggu selama ini? “ Ucapnya yang lantas tersenyum.

Sebuah tangan menyentuh bahunya dengan lembut. Chaira menoleh menatap Harist yang kini telah menjadi Abah untuk anak-anak mereka. Harits menghapus air mata yang membasahi pipi istrinya itu dengan lembut penuh dengan cinta. Harits langsung duduk di samping istrinya itu. Ia tahu istrinya pasti merindukan Abahnya. Hal apalagi yang bisa membuat Wanita Tangguh yang kini menjadi istrinya itu menangis kalau bukan karena Abahnya.

“Kau telah memberikan Mentari untuk Abah Dek, dan Abah kini telah Bahagia dengan Mentari yang Allah berikan padanya.” Ucap Harits. Chaira hanya mengangguk lantas menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.

Baca Juga: Memendam Dendam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *