Mentari Untuk Abah
Waktu berjalan demikian cepat. Hari-hari, bulan bahkan tahun pun berlalu sedemikian singkat. Dua tahun sudah Abah Ahmad menjabat sebagai Gubernur yang dicintai oleh masyarakat. Chaira kini sudah akan lulus dari SMA. Sedangkan Syahrul kini telah melanjutkan Pendidikan di Mesir dengan Beasiswa. Abah jarang dirumah. Karena tanggung jawab yang besar mengharuskan Abah untuk tinggal di luar rumah. Hanya tiga hari waktu Abah untuk bisa Bersama keluarga dan santri tercinta. Chaira merindukan waktunya Bersama Abahnya. Hari-harinya kini Ia habiskan untuk membaca buku dan belajar. Terlebih, kini Ia juga tampak Aktif untuk menghafalkan UUD Indonesia dan UUD Internasional. Kepudiliannya tentang ilmu hukum mengantarkan cita-citanya menjadi seorang Pengacara atau Jaksa. Chaira ingin membantu rakyat yang mendapat hukuman semena-mena terlebih untuk cita-cita terbesarnya ingin membuat hukum Indonesia ditegakkan semestinya.
Chaira membuka lembar demi lembar novel yang berjudul Para Digma yang berfokus pada psikologis, karya Syahid Muhammad. Imajinasinya melayang tinggi membayangkan cerita yang disajikan. Hingga suara mobil polisi patrol tambak bising menggema ditelinga. Chaira menutup buku itu lantas beranjak dari kamarnya. Diruang tamu itu Ia melihat Ummi yang kini wajahnya penuh dengan Air mata Abah hanya bisa diam saat seorang polisi memborgol tangannya. Semenit kemudian beberapa polisi bahkan tantara mulai masuk ke Rumah. Chaira mendekat ke Uminya yang kini hanya bisa menangis disamping Abahnya. Setitik Air mata mulai menitik dari kedua matanya, Ia ingin bertanya pada Umi tapi lidahnya terasa kelu, tak mampu berucap.
“Lepaskan Abah saya!” Perintahnya
“Abah Ahmad adalah seorang koruptor sekaligus kriminal!” Jawab seorang polisi yang kini menghalangi Langkah Chaira ketiaka ingin menghampiri Abahnya
“Nduk, inilah waktu Malam dalam hidup Abah.” Ucap Abahnya.
“Ayo jalan!” Hardik seorang polisi yang kini mendorong tubuh Abahnya dengan kasar. Tubuh Chaira terasa kaku tak mampu bergerak. Kata Koruptor dan Kriminal kini melambung memenuhi jiwa sadarnya. Chaira berlari menyusul Abah. Ia melihat berbagai mobil, motor dan senjata yang dibawa oleh pihak kepolisian. Abahnya kini layaknya seorang teroris yang telah menyebabkan banyak nyawa tumbang karena ulahnya. Masyarakat yang dulu mencintai Abah kini berkerumun bukan untuk membela Abahnya melainkan melempari Abahnya dengan telur bahkan sayuran busuk. Dibarisan terdepan para santri yang memiliki cinta yang dalam untuk sang Kiai mengahalangi amukan Masyarakat yang hendak merangsek mengeroyok Abah Ahmad. Chaira berlari berdiri disamping Abahnya guna menghalau serangan itu. Beberapa kali polisi berusaha menariknya menjauh tapi ia tak mau, keinginannya kokoh. Abah menitikkan airmata kala melihat putrinya yang kini kotor oleh pecahan telur dan sampah sayur yang berbau busuk. Sebisa mungkin Chaira terseyum menatap Abahnya, seakan dalam seyuman itu Ia berkata Abah ini bukan Apa-apa. Chaira mundur kala Abah telah memasuki mobil kepolisian. Tapi Amukan Masyarakat seperti tak pernah usai. Ayin teman sekaligus sahabatnya menarik tangannya untuk masuk ke rumah sedang para santri putra menghalau kemarahan masyarakat dan menutup gerbang Pesantren.
Sejak itulah semuanya berakhir. Kebahagian keluarga yang selalu menyelimuti hari-harinya hancur sudah. Semua media sibuk membicarakan Abahnya yang dituduh korupsi Triliunan Rupiah, Abahnya juga dianggap kriminal yang berkerja sama dengan Mafia luar negeri dalam perdagangan Narkoba yang bermotif permen hingga banyak korban jiwa yang meninggal. Abahnya dianggap Psikopat bermotif Agama. Chaira tidak percaya, begitupun dengan Umi. Tapi begitulah, Ia tak memiliki bukti untuk membantu Abahnya. Sedangkan mereka punya bukti tanda tangan Abah dan saksi yang mengaku suruhan abah atau orang kepercayaan Abah. Persidangan berjalan dengan sangat cepat, tidak semesti persidangan pada umumnya. Abahnya difonis penjara seumur hidup tanpa ada pertimbangan lanjut.
Pesantrennya disita oleh pemerintah begitupun dengan semua asset yang dimiliki Abah. Semuanya sirna. Santriwan santriwati diboyong keluarga. Kehadirannya dan Umi tak lagi diterima dimasyarakat. Bahkan sewaktu umi belanja dipasar tidak ada yang bersedia menjual sayurannya pada umi. Melihat kondisi yang seperti ini Umi memutuskan untuk Kembali ke kampung halaman. Disana Umi masih punya tanah warisan dari mbah dan alhamdulillah umi juga masih menyimpan tabungan yang cukup untuk modal bisnis di desa. Syahrul sebenarnya ingin pulang ke Indonesia tapi tidak diperbolehkan oleh uminya. Seperti pesan Abah apapun yang menimpa keluarga jangan sampai mengganggu Pendidikan anak-anak. Sebelum pergi Chaira dan Umi datang ke Penjara menjenguk Abah, sekaligus pamit hendak pergi. Mungkin mereka akan lama tidak bertemu. Jika bertemupun mungkin hanya setahun sekali. Air mata Umi menetes sudah saat melihat Abah keluar diantar oleh seorang polisi yang berwajah galak. Abah mengenakan Baju dan celana tahanan, tapi bedanya ia masih mengenakan kopyah hitam khas santri. Chaira menunduk saat melihat wajah Abahnya kini memar-memar kebiruan. Sepertinya ada yang menyakiti Abahnya. Air mata kinimulai mengalir membasahi pipinya yang tadinya kering. Anak mana yang akan tega Ketika melihat kondisi Abahnya seperti sekarang. Kakinya tanpa alas kaki, Abah yang biasa memakai baju rapi kini memakai baju tahanan, orang yang selalu menunduk Ketika bertemu Abah kini malah mendorognya dengan kasar dan wajah yang biasanya putih bersih kini terlihat sedikitt kumuh dan memar. Tapi satu hal yang tidak berubah, wajah Abahnya masih bercahaya. Bahkan cahaya penentram jiwa itu malah semakin terang.
“Jangan menangis Umi, Nduk,” Ucap Abah yang melihat dua perempuan yang sangat disayanginya itu kini telah menagis dihadapannya. Chaira mengangkat wajahnya menatap Abah yang kini malah terseyum menatapnya.
“Jangan khawatir tentang kaadaan Abah, Insyallah Allah selalu Bersama Abah.” Ucapanya masih dengan seyum.
Umi menghapus air matanya. Berusaha tabah. Umi mengabarkan pada Abah sekaligus minta izin untuk pindah, tanpa mengatakan bagaimana sulitnya hari-hari kami lalui saat Abah berada dalam penjara. Abah mengangguk memberi izin tanpa bertanya lebih lanjut. Satu kata yang akhirnya membuat umi Kembali menangis yaitu Abah mempersilahkan jika Umi menyerah dengan pernikahan ini. Abah hanya ingin titip anak-anak.
“Izinkan Umi sepertti Saidatina Khadijah yang selalu mendapingi Rasulallah dalam kaadaan apapun. Abah, Kepercayaan Umi layaknya Abu Bakar saat menuduh berita isra` mikraj nabi adalah kebohongan.”
“Abah Chaira janji akan membawakan Mentari untuk Abah” Ucapnya pada Abah. Setelah semua percakapan dan saling menguatkan bahwa semua ini adalah ujian dari Allah. Bukan karena Allah benci pada hambanya tapi ini adalah bentuk rindu Allah pada hambanya agar selalu mengingatnya. Umi dan Chaira pamit.
5 Tahun kemudian
Mentari masih bertengger di tengah-tengah langit. Sepasang kaki masih terus melangkah dengan beberapa berkas yang kini ia bawa. Kebahagiaan terpancar dari matanya. Tapi ada kerinduan dan luka yang masih tak bisa disembunyikan dari kedua matanya. Lima tahun telah berlalu. Sekarang siapa yang tak mengenal namanya, Azza Syakrani yang sebenarnya adalah Chaira Muazzizah seorang pengacara kondang yang tak pernah kalah dalam persidangan. Dia dianggap pahlawan dari kalangan rakyat jelata yang tak mendapatkan hukuman yang semestinya. Selain itu banyak tulisannya yang kini memotifasi para mahasiswa muda untuk peduli dengan politik negeri terlebih hukum yang berlaku di Indinesia. Dua tahun Chaira tak bertemu Abahnya, Ia rindu ingin memeluk Abahnya. Terlebih lagi Chaira ingin mengabarkan bahwa Ia sekarang akan mengembalikan nama Abahnya. Abahnya bukan koruptor dan kriminal Ia hanya di Fitnah. Semua bukti yang dicarinya mati-matian selama lima tahun ini telah cukup kuat untuk membebaskan Abahnya dari jeruji besi.
Chaira melirik kesampingnya. Chaira terseyum menatap laki-laki yang selama ini membantunya untuk mencari bukti tentang Abahnya. Namanya Muhammad al-Harits. Ia merupakan alumni dari pesantrennya dulu. Orang yang selalu menengok Abah dan menyampaikan kabar berita tentang Abah pada Chaira. Seperti Abah kini menjadi orang yang cukup disegani dipenjara, banyak penjahat yang akhirnya luluh melihat kesabaran dan keikhlasan Abah, penuturan Abah yang menentramkan jiwa. Abah masih memegang prinsip santrinya dimanapun tempat tebarkanlah ajaran Agama. Kehadiran Harits secara tidak langsung menjadi semangat tersendiri dalam hidup Chaira.
Chaira duduk sambil menatap pintu tahanan. Sedangkan Harist hanya duduk anteng disampingnya. Chaira tersenyum saat melihat Abahnya dituntun oleh seorang sipir dengan pelan. Abahnya kini terlihat sangat kurus dan lemah. Chaira menatapnya iba. Tapi Abahnya tetap sama, Ia tak pernah menunjukan kesedihan atau rasa sakitnya pada siapapun, Ia hanya terseyum pada putri tercintanya itu. Chaira mencium tangan Abahnya dan langsung memeluk Abahnya. Ia mengabarkan kalau ia akan membebaskan Abahnya dari tahanan. Keluarga mereka akan berkumpul dengan Bahagia. Ia juga mengabarkan Syahrul kini telah menjadi seorang dosen di Universitas Islam terkemuka Indonesia. Abahnya hanya mengatakan alhamdulillah mendengar semua penuturan putri tercintanya itu.
Chaira masih sibuk bercerita tentang pengalamanya selama dua tahun ini. Abahnya hanya terseyum mendengarkan cerita putrinya itu. Ia bangga putrinya berguna untuk Bangsa dan Masyarakat.
“Selain mengabdi pada Negara jangan pernah lupa kamu itu juga santri, wajib bagimu untuk ngurip-ngurip agama Nduk” Ucap abahnya yang seketika mengeluarkan darah segar dari hidungnya. Chaira terbelalak. Ia khawatir saat melihat Abahnya yang kini tak sadarkan diri. Harist segera memanggil Sipir penjara agar Abah Ahmad bisa ditangani oleh pihak medis. Mobil Ambulance tiba membawa tubuh Abah yang kini lemah tak berdaya. Chaira menangis menemani Abah di dalam mobil.
“Ya Allah apalagi ini” ucapnya dalam hati.


