Bersama Literasi Lenyapkan Tirani

Dahulu Wijen merupakan tanah para pejuang di Menaf dalam mempertahankan wilayah dari serangan bangsa Eropa—Salah satunya adalah kerjaan Inggris—yang berniat menguasai Menaf untuk mereka jadikan titik pertahanan dan pasokan yang memudahkan mereka menguasai benua Afrika. Hingga akhirnya mereka berhasil menguasai kekuasaan pemerintah Menaf dengan politik-ekonomi M.O.C. yang mendeklarasikan kemerdekaan dan menjalin kerjasama dengan Menaf.

Wijen memiliki sejarah heroik yang menjadikan wilayah ini sulit ditaklukan oleh bangsa Eropa. Iqbal Jalaluddin, pemimpin Wijen yang saat ini menghilang adalah sahabat dekat Jamaluddin, merupakan penasehat dan aktivis yang melopori semangat membaca, berkarya dan diskusi dalam membuka pikiran masyarakat Wijen agar tidak terikat belenggu penjajahan bangsa Eropa. Tetapi Jamaluddin harus pergi lebih dulu karena karyanya yang dianggap melawan dan mencampuri urusan pemerintahan Menaf, yang membuat Jamaluddin ditangkap oleh pemerintah. Jamaluddin mewariskan karya yang ia titipkan kepada seorang penjaga toko antik di Wijen, yaitu Imannuel. Benda itulah yang menjadi misteri di Menaf.  

*****

Kabar kasus korupsi yang dilakukan Raja Kawai dan komplotannya, dan hilangnya pemimpin Wijen ini membuat Anthony senangnya bukan main. Ia segera melakukan aksi-aksi penindasan kepada rakyat Wijen, merampas keberanian mereka, dengan cara menjarah sebagian ladang pertanian untuk dijadikan markas militer, membakar sebagian wilayah yang terdapat kekuatan ilmu pengetahuan, membuka lowongan kerja di perusahaan M.O.C. bagi masyarakat kelas menengah ke atas.

Perampokan sebagian ladang yang dilakukan Anthony kepada masyarakat Wijen membuat masyarakat Wijen kehilangan penghasilan dan mengacaukan perekonomian mereka yang mengakibatkan maraknya kasus pencurian di Wijen. Sebagian masyarakat yang tergiur kekayaan dan kekuasaan mulai berpihak pada Anthony untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

Budaya masyarakat yang dulunya sangat gemar membaca dan berdiskusi di pustaka mengenai kemaslahatan hidup mereka bersama dan menciptakan karya sastra, maupun kritik bagi pemerintahan yang lalai, kini telah ditinggalkan karena sebagian pustaka tempat mereka berkumpul yang juga merupakan kekuatan bagi mereka telah dibakar oleh M.O.C. dan mereka takut akan ancaman M.O.C. yang menghantui pikiran mereka, ditambah lagi kekuatan militer M.O.C. yang dipimpin Anthony menjadi jeruji bagi mereka untuk melakukan pergerakan.

*****

Kondisi tersebut mengundang jiwa Imannuel untuk menyelesaikan kemerosotan sosial-ekonomi yang terjadi di Menaf. Berkali-kali ia memutarkan isi kepalanya untuk menemukan solusi penyelesaian kemerosotan itu. Hingga akhirnya ia teringat pada warisan peninggalan Jamaluddin yang ia simpan rapi di brankas pribadinya. Setelah ia membuka warisan karya Jamaluddin dan membacanya ternyata berisikan cara mempertahankan kemerdekaan Wijen dan melepaskan Menaf dari campur tangan penjajahan kerajaan Inggris. Seketika itu terlintas di benak Imannuel bayangan ketika Jamaluddin memberikan benda warisan itu dengan berkata ‘jangan biarkan kemerdekaan kita diperbudak oleh Eropa, jaga benda ini, kau akan membutuhkannya ketika pemerintah yang berkuasa telah berubah menjadi diktator-tirani dan Wijen sudah kehilangan pemimpinnya’.

Baca Juga:  PP. Al-Anwar 3 Putri Terapkan Sistem Pembayaran Digital Melalui BSI

*****

Susana pertikaian antara masyarakat dan M.O.C. sedang terjadi di jalanan Wijen, terik panas matahari semakin membakar suasana di antara dua kelompok itu. Keluarga Adib Ishak sedang bertikai dengan Anthony beserta tiga tentaranya yang merampas harta benda milik mereka serta menangkap ayah dan ibunya. Dengan dalih bahwa keluarga Adib Ishak bersekongkol dengan Iqbal Jalaluddin dalam melakukan pemberontakan. Imannuel yang sedang melintasi jalan tersebut melihat kejadian tersebut, segera membantu Adib Ishak melawan.

“Dasar pak tua!, kenapa kau ikut campur dalam urusanku!” ujar Anthony kesal dengan kehadiran Imannuel.

“Jika tuan berani menyakiti anggota masyarakat, itu berarti juga menjadi bagian urusanku!” balas Imannuel mencoba membela.

‘DUAAARRR’… di luar dugaan, ternyata Anthony melepaskan peluru pistolnya ke arah Imannuel. Yang memaksa Imannuel merelakan nafas terakhirnya di depan keluarga Adib Ishak. Tanpa memperdulikan keluarga Adib Ishak yang akan ia tangkap, Anthony meninggalkan jalanan itu begitu saja. Keluarga Adib Ishak pun segera membawa mayat Imannuel dan mengurus prosesi pemakaman untuk Imannuel.

Adib Ishak memeriksa tas yang dibawa Imannuel dan menemukan benda yang ada di dalamnya. Ternyata itu adalah karya-karya dan surat Jamaluddin. Di surat itu tertulis bahwa Jamaluddin memerintahkan Imannuel untuk pergi ke Madrasah Bawah Tanah yang dulu dibangun oleh Jamaluddin dan teman-teman seperjuangannya. Ishak yang dahulunya murid Jamaluddin menganggap surat itu adalah isyarat dari gurunya bahwa sudah saatnya bangkit melawan.

Adib Ishak segera menuju tempat yang telah dituliskan di surat itu dan mulai membaca karya-karya Jamaluddin. Ia mulai menjalankan strategi-strategi yang telah disusun Jamaluddin. Langkah pertama yang ia lakukan adalah mengirim utusan ke Menaf untuk mengundang Gamal Salim, seorang perwira militer muda di Menaf—orang yang sudah seperti saudara bagi Jamaluddin—untuk datang ke Madrasah Bawah Tanah. Ishak telah sampai di Madrasah Bawah Tanah, ia terkejut dengan tempat yang disebut dengan ‘madrasah’ itu, karena tempat itu seperti sebuah pustaka.

Baca Juga:  Mohammad Hatta: Demokrasi Berakar, Bukan Sekedar Prosedur

*****

Gamal Saleem pun tiba di Madrasah Bawah Tanah. Kedatangan Gamal disambut dengan sangat gembira oleh Ishak. Ishak menceritakan kondisi kemrosotan sosial-ekonomi yang sedang melanda Menaf dan Wijen. Ishak pun menyerahkan karya peninggalan Jamaluddin pada Gamal.

“Tentu aku akan berdiri tegap di sisi mu nak!” jawab Gamal menyambut untaian ceita Adib Ishak.

“Terimakasih, wahai Saudara Jamaluddin!” sahut Ishak.

Gamal sangat memahami pemikiran saudaranya—Jamaluddin. Ia pun memerintahkan Ishak untuk menghimpun masa dan menjadikan mereka senang membaca dan menulis dengan memanfaatkan pustaka terakhir yaitu Madrasah Bawah Tanah. Gamal akan bekerja secara diam-diam menyelusup di semua divisi militer bersenjata Menaf. kalangan militer tidak suka dengan kedudukan Inggris di Menaf, tetapi jika menunjukkan sifat anti Inggris akan sangat beresiko.

*****

Ishak berusaha mengumpulkan masa dengan menulis artikel[5]. Dan tulisan itu berhasil mengundang perhatian rakyat Wijen dan Menaf serta menyadarkan mereka akan pemerintah mereka yang diktator-tirani. Mereka pun bersatu dengan mendirikan organisasi himpunan kebebasan untuk merobohkan sistem lama dan menegakkan pilar kemerdekaan.

Kabar pemberontakan itu di Anthony dan Raja Kawai khawatir, Anthony berencana menangkap para pemberontak itu, tapi ia kesulitan menemukan markas mereka. Anthony juga berusaha mempengaruhi para pemberontak itu dengan harta yang menggiurkan. Namun, sangat disayangkan rakyat Menaf dan Wijen kini telah melek hukum dan politik, karena literasi mereka di Madrasah Bawah Tanah yang membuahkan pemikiran ‘harapan merdeka’.

Anthony dan Raja Kawai pun akhirnya memutuskan menghimpun seluruh militer untuk melakukan operasi militer guna mencari pemberontak, mereka memeriksa seluruh rakyat. Dan akhirnya himpunan para pemberontak berhasil mereka tangkap.

“Mengalahkan kami hanya dengan tulisan?, tidak mungkin!, kalian akan berakhir di sini”  ujar Anthony

“Bunuh mereka!, hahaha” tawa jahat Anthony dan Raja Kawai.

Militer Menaf bersama M.O.C. mulai mengarahkan senjata ke Adib Ishak serta pengikutnya dan menembakkan senjata. Tapi tak ada satupun peluru yang keluar dari senjata mereka.

*****

              Sebelum operasi militer dilakukan Gamal dan sekutunya telah mengosongi senjata M.O.C. dan pasukan Raja Kawai, dan memindahkan peluru ke senjata militer Gamal tanpa sepengetahuan M.O.C. dan pasukan Raja Kawai.

*****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *