Catatan dari Penjara

penulis

Di barisan terdepan para santri yang memiliki cinta yang dalam untuk sang Kiai mengahalangi amukan masyarakat yang hendak merangsek mengeroyok Abah. Achra berlari berdiri di samping Abah guna menghalau serangan itu. Beberapa kali polisi berusaha menariknya menjauh tapi ia tak mau, keinginannya kokoh. Abah menitikan air mata kala melihat putrinya yang kini kotor oleh pecahan telur dan sampah sayur yang berbau busuk. Sebisa mungkin Achra terseyum menatap Abah, seakan dalam senyuman itu Ia berkata Abah ini bukan Apa- apa. Polisi memaksa masuk Abah ke dalam mobil, Achra menatap polisi itu dengan tatapan garang.

“Abah saya adalah manusia, Perlakukan dia sebagai manusia!” Bentaknya.

Achra mundur kala Abah telah memasuki mobil kepolisian. Tapi amukan masyarakat seperti tak pernah usai. Mereka hanya peduli apa yang didengar tanpa tahu fakta dibaliknya. Ayin menarik tangannya untuk masuk ke rumah sedang para santri putra menghalau kemarahan masyarakat dan menutup gerbang Pesantren.

Sejak itulah semuanya berakhir. Kebahagian keluarga yang selalu menyelimuti hari-harinya hancur sudah. Semua media sibuk membicarakan Abah yang dituduh korupsi Triliunan Rupiah, Abah juga dianggap kriminal yang berkerja sama dengan Mafia Luar Negeri dalam perdagangan narkoba yang bermotif permen hingga banyak korban jiwa yang meninggal. Abah dianggap psikopat bermotif Agama. Achra tidak percaya, begitupun dengan Umi. Tapi begitulah, Ia tak memiliki bukti untuk membantu Abahnya. Sedangkan mereka punya bukti tanda tangan Abah dan saksi yang mengaku suruhan abah atau orang kepercayaan Abah. Persidangan berjalan dengan sangat cepat, tidak semesti persidangan pada umumnya. Abah difonis penjara seumur hidup tanpa ada pertimbangan lanjut.

Pesantren disita oleh pemerintah begitupun dengan semua aset yang dimiliki Abah. Semuanya sirna. Santriwan dan santriwati diboyong keluarga. Kehadirannya dan Umi tak lagi diterima di masyarakat. Bahkan sewaktu umi belanja di pasar tidak ada yang bersedia menjual sayurannya pada umi. Melihat kondisi yang seperti ini Umi memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Disana Umi masih punya tanah warisan dari mbah dan alhamdulillah umi juga masih menyimpan tabungan yang cukup untuk modal bisnis di desa. Syahrul sebenarnya ingin pulang ke Indonesia tapi tidak diperbolehkan oleh Umi. Seperti pesan Abah apapun yang menimpa keluarga jangan sampai mengganggu Pendidikan anak-anak. Sebelum pergi Achra dan Umi datang ke penjara menjenguk Abah, sekaligus pamit hendak pergi. Mungkin mereka akan lama tidak bertemu. Jika bertemupun mungkin hanya setahun sekali. Air mata Umi menetes sudah saat melihat Abah keluar diantar oleh seorang polisi yang berwajah galak. Abah mengenakan Baju dan celana tahanan, tapi bedanya ia masih mengenakan kopyah hitam khas santri. Achra menunduk saat melihat wajah Abahnya kini memar- memar kebiruan. Sepertinya ada yang menyakiti Abahnya. Air mata mulai mengalir membasahi pipi yang tadinya kering. Anak mana yang akan tega ketika melihat kondisi Abahnya seperti sekarang. Kakinya tanpa alas kaki, Abah yang biasa memakai baju rapi kini memakai baju tahanan, orang yang selalu menunduk ketika bertemu Abah, kini malah mendorongnya dengan kasar dan wajah yang biasanya putih bersih, kini terlihat sedikit kumuh dan memar. Tapi satu hal yang tidak berubah, wajah Abah masih bercahaya. Bahkan cahaya penentram jiwa itu malah semakin terang.

Baca Juga:  Langkah Mandiri UKM Tari, Timbulkan Beragam Rasa

“Jangan menangis Umi, Nduk,” Ucap Abah yang melihat dua perempuan yang sangat disayanginya itu kini telah menangis dihadapannya. Achra mengangkat wajahnya menatap Abah yang kini malah tersenyum menatapnya.

“Jangan khawatir tentang kaadaan Abah, Insyallah Allah selalu bersama Abah.” Ucapnya masih dengan senyum.

Umi menghapus air matanya. berusaha tabah. Umi mengabarkan pada Abah sekaligus minta izin untuk pindah, tabpa mengatakan bagaimana sulitnya hari-hari kami lalui saat Abah berada dalam penjara. Abah mengangguk memberi izin tanpa bertanya lebih lanjut. Satu kata yang akhirnya membuat umi kembali menangis yaitu Abah mempersilahkan jika Umi menyerah dengan pernikahan ini. Abah hanya ingin titip anak-anak.

“Izinkan Umi seperti Sayyidatina Khadijah yang selalu mendampingi Rasulallah dalam kaadaan apapun. Abah, kepercayaan Umi layaknya Abu Bakar saat menuduh berita isra` mikraj nabi adalah kebohongan.”

“Abah Achra janji akan membawakan Mentari untuk Abah” Ucapnya pada Abah. Setelah semua percakapan dan saling menguatkan bahwa semua ini adalah ujian dari Allah. Bukan karena Allah benci pada hambanya tapi ini adalah bentuk rindu Allah pada hambanya agar selalu mengingatnya. Sebelum pergi Achra memberikan satu kotak pena dan beberapa buku tebal, baik yang masih kosong atau sudah penuh tulisan. Achra tahu Abah sangat mencintai dunia tulis dan membaca. Umi dan Chaira pamit.

5 Tahun kemudian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *