Catatan dari Penjara
Langkahnya semakin cepat mendayu. Achra tahu ketua partai yang diikuti oleh Abah akan datang. Entah kenapa ia merasa sangat penasaran apa yang akan dipinta oleh ketua partai itu. Tubuhnya mematung ketika ruang tamu kini hanya menyisakan mbak-mbak ndalem yang sedang membereskan meja. Matanya menyapu sekitar mencari Abah atau Uminya.
“Nduk,” Sebuah tangan lembut menyentuh pundaknya. Achra menoleh menatap Abahnya yang kini wajahnya berhiasan seyuman. Seakan tahu apa yang dipikirkan oleh putrinya yang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi.
“Mereka datang meminta Abah untuk mencalonkan diri dalam pemilihan Gubernur mendatang.”
Chaira menunduk. Lidahnya terasa kelu tak mampu berkata apa-apa. “Abah menerima permintaan itu Nduk,”
Mendengar penuturan Abah Achra langsung mendongakkan wajahnya menatap mata Abah lekat-lekat. Achra mencoba menerawang apa alasan Abah menerima permintaan itu? Ingin bertanya tapi tak enak hati. Bagaimanapun juga itu adalah keputusan abahnya dan Achra yakin Abah selalu memiliki pertimbangan yang matang dalam keputusannya.
Pemilu itu berjalan demikian cepat. Abah yang memang sudah dikenal di kalangan masyarakat mendapatkan sambutan bahagia kala memenangkan pemilu tahun ini. Santri berduka cita atas kemenangan yang diperoleh kiainya. Bahkan diadakan tahlil bersama dan makan-makan sebagai rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan. Abah hanya diam dan tersenyum tipis kala melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah para santrinya. Ia ingin mengajarkan santri untuk cinta pada negeri. Tidak anti akan politik, Karna bagaimanapun juga negeri ini juga tak bisa berjalan tanpa adanya kepemimpinan. Negeri butuh pemimpin yang dapat memanusiakan manusia.
Diam-diam Achra memperhatikan wajah Abah. Walau wajah penuh wibawa itu terbalut oleh senyum yang indah tetap saja raut-raut kesedihan terpancar. Achra diam menunduk mendoakan Abah agar semuanya berjalan dengan lancar.
Waktu berjalan demikian cepat. Hari-hari, bulan bahkan tahunpun berlalu sedemikian singkat. Dua tahun sudah Abah menjabat sebagai Gubernur yang dicintai oleh masyarakat. Achra kini sudah akan lulus SMA. Sedangkan Syahrul telah melanjutkan Pendidikan di Mesir dengan Beasiswa. Abah jarang dirumah. Karena tanggung jawab yang besar mengharuskan Abah untuk tinggal di luar rumah. Hanya tiga hari waktu Abah untuk bisa bersama keluarga dan santri tercinta. Achra merindukan waktu bersama Abah. Hari-harinya kini Ia habiskan untuk membaca buku, pergi ke perpustakaan seorang diri dan belajar. Terlebih, kini Ia juga tampak Aktif untuk menghafalkan UUD Indonesia dan UUD Internasional. Kepudiliannya tentang ilmu hukum mengantarkan cita-citanya menjadi seorang Pengacara atau Jaksa. Achra ingin membantu rakyat yang mendapat hukuman semena-mena terlebih untuk cita-cita terbesarnya ingin membuat hukum Indonesia ditegakkan semestinya.
Achra membuka lembar demi lembar novel yang berjudul Paradigma yang berfokus pada psikologis, karya Syahid Muhammad. Imajinasinya melayang tinggi membayangkan cerita yang disajikan. Hingga suara mobil polisi patroli terdengar bising menggema di telinga. Achra menutup buku itu lantas beranjak dari kamarnya. Di ruang tamu Achra melihat Ummi yang kini wajahnya penuh dengan air mata, Abah yang hanya bisa diam saat seorang polisi memborgol tangannya. Semenit kemudian beberapa polisi bahkan tentara mulai masuk ke rumah. Achra mendekat ke Uminya yang kini hanya bisa menangis di samping Abah. Setitik air mata mulai menitik dari kedua matanya, Ia ingin bertanya pada Umi tapi lidahnya terasa kelu, tak mampu berucap.
“Lepaskan Abah, saya!” Perintahnya
“Abah Ahmad adalah seorang koruptor sekaligus kriminal!” Jawab seorang polisi yang kini menghalangi langkah Achra ketika ingin menghampiri Abahnya
“Nduk, inilah waktu malam dalam hidup, Abah” Ucap Abah.
“Ayo jalan!” Hardik seorang polisi yang kini mendorong tubuh Abahnya dengan kasar. Tubuh Achra terasa kaku tak mampu bergerak. Kata koruptor dan kriminal kini melambung memenuhi jiwa sadarnya. Achra berlari menyusul Abah.
Ia melihat berbagai mobil, motor dan senjata yang dibawa oleh pihak kepolisian. Abah kini layaknya seorang teroris yang telah menyebabkan banyak nyawa tumbang karena ulahnya. Masyarakat yang dulu mencintai Abah kini berkerumun bukan untuk membela Abahnya melainkan melempari Abah dengan telur bahkan sayuran busuk.


