Catatan dari Penjara
Mentari masih bertengger di tengah-tengah langit. Sepasang kaki masih terus melangkah dengan beberapa berkas yang kini ia bawa. Kebahagiaan terpancar dari matanya. Tapi ada kerinduan dan luka yang masih tak bisa disembunyikan dari kedua matanya. Lima tahun telah berlalu. Sekarang siapa yang tak mengenal namanya, Azza Syakrani yang sebenarnya adalah Chaira Ahmad seorang pengacara kondang yang tak pernah kalah dalam persidangan. Dia dianggap pahlawan dari kalangan rakyat jelata yang tak mendapatkan hukuman yang semestinya. Selain itu banyak tulisannya yang kini memotivasi para mahasiswa muda untuk peduli dengan politik negeri terlebih hukum yang berlaku di Indonesia. Dua tahun Achra tak bertemu Abah, Ia rindu ingin memeluk Abahnya. Terlebih lagi Achra ingin mengabarkan bahwa Ia sekarang akan mengembalikan nama Abahnya. Abahnya bukan koruptor dab criminal Ia hanya di Fitnah. Semua bukti yang dicarinya mati-matian selama lima tahun ini telah cukup kuat untuk membebaskan Abahnya dari jeruji besi.
Achra melirik kesampingnya. Achra terseyum menatap laki-laki yang selama ini membantunya untuk mencari bukti tentang Abah. Namanya Muhammad al-Harits. Ia merupakan alumni dari pesantrennya dulu. Orang yang selalu menengok Abah dan mengabarkan berita tentang Abah pada Achra. Tak segan Achra selalu menitip buku atau kitab untuk Abah ketika Harits menengok Abah. Berita yang didapat Achra Abah kini menjadi orang yang cukup disegani di penjara, banyak penjahat yang akhirnya luluh melihat kesabaran dan keikhlasan Abah, penuturan Abah yang menentramkan jiwa. Abah masih memegang prinsip santrinya dimanapun tempat tebarkanlah ajaran Agama. Kehadiran Harits secara tidak langsung menjadi semangat tersendiri dalam hidup Achra.
Achra duduk sambil menatap pintu tahanan. Sedangkan Harist hanya duduk anteng di sampingnya. Achra tersenyum saat melihat Abahnya dituntun oleh seorang sipir dengan pelan. Abahnya kini terlihat sangat kurus dan lemah. Achra menatapnya iba. Tapi Abahnya tetap sama, Ia tak pernah menunjukkan kesedihan atau rasa sakitnya pada siapapun, Ia hanya tersenyum pada putri tercintanya itu. Achra mencium tangan Abah dan langsung memeluk Abah. Ia mengabarkan kalau ia akan membebaskan Abahnya dari tahanan. Keluarga mereka akan berkumpul dengan bahagia. Ia juga mengabarkan Syahrul kini telah menjadi seorang dosen di Universitas Islam terkemuka Indonesia. Abahnya hanya mengatakan kalimat alhamdulillah berulang kali mendengar semua penuturan putri tercintanya itu.
Achra masih sibuk bercerita tentang pengalamannya selama dua tahun ini. Abahnya hanya tersenyum mendengarkan cerita putrinya itu. Ia bangga putrinya berguna untuk bangsa dan masyarakat.
“Selain mengabdi pada Negara jangan pernah lupa kamu itu juga santri, wajib bagimu untuk ngurip-ngurip agama Nduk” Ucap abahnya yang seketika mengeluarkan darah segar dari hidungnya. Achra terbelalak. Ia khawatir saat melihat Abah yang kini tak sadarkan diri. Harist segera memanggil Sipir penjara agar Abah bisa ditangani oleh pihak medis. Mobil Ambulance tiba membawa tubuh Abah yang kini lemah tak berdaya. Achra menangis menemani Abah di dalam mobil.
Ruang persidangan tampak ramai baik dari kalangan elit yang kini menjadi tersangka kasus pencemaran nama baik Abah Ahmad, juga sekaligus pelaku yang sebenarnya korupsi. Seseorang yang kini memiliki pososi tinggi dalam Negeri dan seorang Pengusaha yang saban hari nongol di TV karena kedermawanan teryata adalah seorang pecandu dan pengedar narkoba. Bukti-bukti yang selama lima tahun ini dikumpulan oleh Achra dan Harits tak sia-sia. Dengan semua bukti itu lawan tak bisa berkutik dan membantah. Apalagi seorang saksi yang dulu bersaksi bohong tentang Abah kini mengakui semua kejahatannya dan merasa menyesal karena telah memfitnah Abah. Wartawan sibuk mencatat semua yang terjadi dalam ruang sidang. Apalagi sidang ini juga Live di beberapa Stasiun TV ternama, karena melibatkan orang-orang penting di Negri. Setelah hadirnya saksi Achra maju di depan Hakim. Ia menghirup nafas dalam dengan mata berkaca-kaca.
“Dengan ini saudara Ahmad Syakrani tidak bersalah.” Achra berhenti sejenak.” Dengan ini Abah saya tidak bersalah!” Ucapnya tegas, membuat beberapa orang yang menghadiri ruang sidang ikut menangis menatap perjuangan seorang putri untuk Abahnya. Penantian yang tak sia-sia. Hakim mengetuk palu menyatakan bahwa Abah Ahmad Syakrani tidak bersalah dan meminta maaf untuk semua keluarga atas kesalahan pengadilan.
Harits maju melangkah membuat seisi ruang sidang memperhatikannya. Ia sedikit mendekat ke arah Chaira dan mengabarkan berita yang baru saja Ia terima dari Syahrul
“Neng, Abah baru saja wafat”
Halilintar menyambar tepat ke ulu hatinya. Kemarau yang tadi ia pertahankan kini telah basah dengan banjir yang tak bisa ia tahan. Kakinya terasa lemas. Chaira tak lagi mampu berdiri. Hanya satu kata yang Ia ucapkan hingga membuat semua yang hadir merasa ngilu mendengarnya
“Abah, Abah, Apa ini Mentari yang kau tunggu selama ini? “ Ucapnya yang lantas tersenyum.
Oleh: Fathimatuz Zahro Santri Aktif / Alumni: Al-Anwar 3 Sarang Rembang jurusan Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir (mulai aktif tahun 2020 – sekarang) Pernah mondok di Ma`had Al-Ulum Asy-Syar`iyyah (MUS), dan bersekolah di Madrasah Putri Al-Ghozaliyah, Sarang. (Juara 1 Lomba Cerpen Pekan Pustaka V)


