Memendam Dendam

Darah berceceran di mana-mana, oknum yang tadinya masih berbaris rapi, sudah pada mati kelabakan, sekali salah satu dari mereka yang masih megap-megap, mengerang sambil memegangi kaki yang sudah hampir blingsat dari tempurungnya, hanya seutas, dua utas urat yang membuatnya terus tergantung disana.

Kerumunan seketika memadati mobil; Sanu tak beda halnya, ia harus kehilangan dua gigi seri depan, yang patah akibat terhantuk kemudi mobil, membuatnya sama menderitakan rasa sakit. Pandangannya terasa gelap, ditambah bayang-bayang kerumunan orang yang menghalangi kaca mobil dari sinar matahari sore. Dan disaat itulah; di saat kerumunan manusia sudah berkumpul rapi di seluruh penjuru mobil, Sanu dengan terhuyung-huyung kemudian menjalankan rencananya yang kedua. Memantik bom yang berabaring nyenyak di sampingnya.

Duuuaarrr…!!!!! Seketika mobil itu meledak, meciptakan dentuaman keras, mengalahkan ledakan kembang api terbesar di sore itu. Para pengunjung yang sebentar masih sibuk dengan pertunjukan, terhenyak menyaksikan kobaran api disertai asap yang membumbung mekar di udara. Perayaan yang di idamkan, berubah menjadi suasana tengang, tak lupa trauma yang membututinya. Si penakut lari ketakutan, membopong serta katung seni yang hendak pecah akibat rasa horor yang di timbulkan. Si pemberani mem-beranikan diri mendekat, sembari memaki, bangsaat!.

Bubur bangkai?, yah itulah julukan yang tepat untuk pemandangan kala itu. Bagaimana tidak!, jika harus menyaksikan gelimpangan bangkai dengan kuah darahnya yang segar. Merahnya darah membajiri alun-alun kota. Mengalir tak henti-henti dari para korbannya, membuat mereka pucat dan mati di atas genangan darah mereka sendiri. Mayat Bergelimpangan kemana tahu, dengan tubuh yang tercabik-cabik sembari meninggalkan bekas luka bakar yang menganga dalam. Mempertlihatkan bagian dalam tubuh Si mayat; terurai,  membuat ususnya mengeloyor keluar, hingga sekali nampak isi perut mereka yang masih hangat terkunyah, seakan baru dimakan saat itu juga.

Baca Juga:  Membiarkan Belum Tentu Melupakan

Bukan hanya itu, polisi juga menemukan bagian tubuh Sanu yang masih dapat dikenalinya, meski tak dapat dikatakan utuh lagi. Sebelah sisi kepalanya yang koyak terbakar, meleleh menghabiskan rambutnya, dan sekali mengeluarkan isi otaknya yang telah tanak terpanggang api ledakan. Masih terbayang di benakku hingga kemudian harus hangus oleh perbuatan-nya sendiri.

***

Aku berkenalan dengan Sanu, sejak setelah ia pindah ke rumah barunya, yang terletak tak jauh, sekitar dua rumah di sebelah Selatan rumahku. Sanu sendiri pindah dari kampung halamannya di Poso menuju Mandar, saat sebelum akhirnya menetap di Sana.

Rumah Sanu tidak begitu luas, hanya beberapa depa, namun cukup untuk mereka berdua. Ia tinggal di sana bersama sang kakek yang setia menemaninya. Tepat di samping rumah Sanu, terdapat bengkel kecil yang di gunakannya memperbaiki kendaraan-kendaraan yang singgah, hendak di perbaiki, dan sekaligus menjadi sumber mata pencahariannya.

Bengkel Sanu seringkali menjadi tempat nongkrong buat kami, bukan karna kami tak modal, hanya saja kami selalu suka mendengarkan cerita-cerita pengalaman Sanu saat di Poso dulu, meskipun terdengar agak radikal, ditambah kami yang saat itu masih seorang bocah. Namun kami tetap senang dengan ceritanya tentang peperangan, itu membuat jiwa satria kami membara di penuhi api amarah, entah marah kepada siapa?. Sanu sendiri sudah berumur 19 tahun, dengan perawakan yang baik, sangat sopan dan sedikit radikal.

Sanu yatim sejak berumur seperti kami. Aku dengan polosnya pernah menanyakan hal itu, siapa dan bagaimana ia bisa kehilangan ayahnya, lantas ia hanya menjawab “Nanti….Ada waktunya..”, huftt.. membuatku penasaran saja.

Di samping memperbaiki kendaraan yang singgah, ia juga mengaku sedang merakit sesuatu yang di sebutnya sebagai ”Ambangan”, entah apa maksudnya. Proyek itu di rahasiakannya, hanya ia dan kakeknya yang tahu. Pernah sekali aku menguntit ketika ia sedang tidak berada disana menjaga bengkelnya. Ia menyembunyikannya di sebalik tirai bengkel bagian belakang. Hasilnya juga nihil, hanya terlihat oleh ku sebongkah tabung panjang, tak beda dengan tabung pernafasan yang sekali pernah ku lihat di Rumah Sakit.

Baca Juga:  Atas Nama Santri

***

Suatu ketika aku dan teman-teman (kami) hendak nongkrong ke bengkelnya. Sepulang sekolah dan kami belum juga menanggalkan seragam, langsung terus menuju ke sana. Nampak di sore itu ia tengah duduk bersantai di angkringan milik kakeknya. Tibalah kami menyusul, duduk sembari memesan es teh yang selalu kami nikmati setiap pulang sekolah.

“Tumben kalian, baru pulang sekolah”, Sanu menyapa.

“Iya, lagi ikut kelas tambahan”, sambut sekawan.

“Eh.. Bukannya pekan depan perayaan tahun baru?, enaknya kita ngapain yah? ”, Tanya Sanu.

“Aku tidak banyak, hanya ingin meledakkan kembang api yang besaaaarr… sekali”, jawab sekawan.

“Aku setuju, tapi bagaiman kalau aku saja yang membakarnya, takut kalian kenapa-kenapa”, pinta Sanu.

“Kami tak keberatan Nu, asal kami dapat melihatnya meledak dengan dentuman yang akan saaangat!! keras senhingga terdengar keseluruh dunia”, ujar sekawan sambil polosnya bercanda.

“Tenang itu sudah menjadi keahlianku, kalian serahkan saja kepadaku”

“janji?”, janji, jawab Sanu.

Aku tahu itu hanya candaan belaka, lagi pula toko mana yang menjual kembang api sebegitu takhayul, hufft…

Sore itu nongkrong kami diakhiri seperti biasa, dengan mendengar komatan cerita sang diktator kami, tak lupa dengan sedikit bumbu radikal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *