Memendam Dendam
Hari-hari berlalu dengan cepat dan terasa, hingga di mana hari yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba, perayaan tahun baru. Aku sendiri bergegas pergi, baru setelah meminta izin kepada orang tua ku. Yah, aku berani bertaruh meminta izin adalah hal yang paling mudah di terima, terlebih untuk diriku yang sudah dewasa, pikirku, meskipun masih bocah, ataukah mungkin kehadiran ku dirumah hanya menjadi benalu, sehingga mereka begitu rela mengizinknan ku,hmm.. entahlah, yang terpenting saat ini aku telah berpijak di jalan dan bergegas menuju alun-alun kota.
Di sana teman-teman sudah sengkaret menunggu. Betul kami berencana agar berangkat lebih sore, agar dapat menikmati malam tahun baru lebih lama, ujar teman satu waktu. Namun ada yang kurang diantara kami, Sanu sang diktator tak terlihat batang hidungnya disana. Ia sedang mengambil kembang api yang dimaksud, ujar teman sekali lagi.
Se-tiba dari pertigaan jalan alun-alun, mucul sebuah mobil pikcu-up yang melaju sedang, sebelum akhirnya berhenti di hadapan kami.
“Widih sok keren banget kamu, pake naik mobil segala, kalaw tau kamu pakai mobil aku gak bakalan jalan ke sini, aku mending numpang ke mobil mu saja”, ujar sekawan
“Haha… iya dong, itu juga demi mengangkut pesanan kalian, kembang api”
Dengan membuka pintu depan mobil, ingin memamerkan kembang api yang dimaksdu-nya; layaknya batang trambesi dewasa, diselipkan di antara bangku kemudi dan penumpang. Namun kawan-kawan keburu heran, itu sekali lagi bukan kembang api melainkan hanya sebongkah tabung gas, alat bantu pernafasan, “kamu bercanda Nu?”, heran sekawan. “Percayalah padaku, ini akan menjadi kembang api yang tak terkalahkan ledakannya”, Sanu membela diri. Ya sudah kami bocah tahu apa?. Kawan-kawan dengan rasa berharap penuh heran, meyakinkan semuanya pada Sanu, bahwa Sanu akan menepati janjinya.
Sebelum kembali ke dalam mobil ia sempat menghampiriku dan menatap mataku dalam, seraya berkata “Nang!” (aliasku), serunya, “Namaku Sanu, anak dari Santoso!, dan lihatlah pembalasanku ini”. Dendam pada siapa?, aku pun belum dan tak pernah tahu.
( “Santoso” Teroris yang mati akibat menjadi bulan-bulanan Polisi, Poso, Sulawesi Tengah).
***
Kejadian itu sangat heboh, hingga terdengar di seluruh dunia, media sosial, sekaligus itu bentuk menepati Janji-nya kepada kami bocah-bocah yang di tinggalkan.


