Politi-Gus
Masihlah sepemakan sirih matahari terbit dari timur, namun telepon genggam milik Teguh belum juga berhenti berdering, Teguh sudah tahu deringan itu bukan lain pesan-berita kebejatan yang harus ia bungkam dan dirinya tentu sangat dibutuhkan di sana, namun terlebih dahulu ia harus membungkam singa di kandang sendiri.
“Belum ada kejelasan alasan yang diberikan sang Romo, mungkin aku bisa memulainya dari situ”, pikir Teguh.
Romo yang tengah duduk menikmati kopi dan berulang kali mengepulkan asap adalah salah satu cara Romo menikmati suasana. Ini waktu yang tepat, waktu di mana hati sedang tenang-tenangnya, mungkin Romo sudah dapat berpikir jernih dan memberikan dawuhnya. Segera saja Teguh ngapurancang di ujung kaki Romonya.
“Romoku tercinta, tolong berikan alasan bahwa advokat itu buruk”, teguh memulai.
Teguh sengaja memuji berlebihan agar tidak memancing singa yang tengah tertidur itu, namun dunia politik sudahlah terlanjur kotor di telinga Romo.
“Rupanya kamu belum mengerti juga yahh?!!, hanya saja kamu belum pernah kalah di persidangan, sampai-sampai kamu merasa sangat yakin bahwa menjadi advokat akan membawakanmu sebuah kebahagiaan”, Romo memadamkan rokok ke asbak, tanda suasana santainya sudah berakhir.
“Itu bukan alasan, Romo”.
“Politikus dan Advokat atau apalah itu, mereka tidak ada bedanya dengan orang yang berbuat aniaya, sama-sama membawa kesengsaraan!!”.
“Itu hanya pandangan Romo, ada baiknya Romo melihat sisi baiknya juga. Di hadapan hakim, kita dapat membungkam uang dengan hanya menggunakan lidah Romo, dan itu kenyataan Romo, Teguh pernah menumbangkan bapak Hakim bahkan yang sudah disogok sekalipun. Hanya menggunakan daging yang tak bertulang ini”, bela Teguh.
“Kenyataan ndasmu, tidak usah sok mengajari!!, Romomu ini tahu sendiri, Mbahmu harus kehilangan tanah karena kolusi!!. Romo sudah berusaha membela mati-matian, justru hakim menyalahkan kami dan Mbahmu, semua karna advokat yang didatangkan pemerintah saat itu”.
“Andai saja Teguh berada di sana, tentu Tegu akan merampok kembali Tanah itu dan memenjarakan Hakim bejat itu untuk Romo”, semangat Teguh.
Romo yang kian memanas berdiri sembari membuka sabuk pinggangnya. Teguh yang barusan ngapurancang juga ikut berdiri.
“Ojo ngadi-ngadi guh!!!, kowe ki sopo, koyok iso ae, mbok mutar balik no keadaan semudah omongan begitu, Romo yang tahu sendiri, ora ono jenenge kebenaran nenggone pengadilan, ngarti kowe?!!!”, Romo naik pitam mendengar jawaban itu, wajahnya memerah dan rasanya akan melayangkan sabuk ke wajah Teguh.
“Maka Teguh lah yang membuktikan itu Romo, Teguh akan buktikan tidak ada lagi orang salah yang akan dibenarkan, tidak, itu tidak akan terjadi di hadapanku Romo”, tegas Teguh sambil membusungkan dada, tanda ia sangat percaya diri dan yakin akan janjinya. Benar saja, sabuk itu melesat menyabet miring wajah Teguh.
Akibat kejadian itu, Romo memutuskan agar Teguh bertolak dari rumah untuk membuktikan perkataannya. Teguh yang terlanjur memberikan kesan buruk, dengan senang hati menghargai keputusan Romo untuk angkat kaki dari kandang singa, meski sangat terpaksa, ia juga tak ingin ucapannya hanya sekedar ucapan belaka.
Konflik pun tak dapat dihindari, perdebatan kecil berlangsung, Nyai yang tak ingin buah hatinya pergi, justru Romo yang tidak keberatan melepas apa yang ia anggap beban keluarga selama ini. Namun segenap dahan beserta bunga dari Teguh, akhirnya Nyai merelakan buah jatuh dari rantingnya.
“Teguh janji Mah, teguh akan kembali ke rumah setelah kubuktikan perkataanku kepada Romo, itu gampang dan tidak akan lama, Teguh janji”.
Sore itu, Teguh berangkat dengan penuh harapan akan pulang serta memanggul hasil yang membuat Romonya merasa puas. Ia hanya diberi waktu Romo satu bulan. Meski diberi waktu yang tidak banyak, ia masih begitu yakin dapat kembali sebelum waktunya. Jika tidak maka tidak untuk selamanya. Tinggallah Romo beserta istrinya di rumah, buah tunggal jantung hatinya sementara harus dirindukan.


