Politi-Gus

Advokat

Jam menunjukkan pukul 03:13, waktu di mana Romo dan Nyai biasa melaksanakan salat malam, tapi kali ini Nyai memutuskan untuk melaksanakannya sendiri, mengingat Romo letih mengajar santri seharian.

Di tengah syahdu salatnya, tiba-tiba Nyai mendengar denting periuk di ruang dapur, pikirnya hanya kucing, tetapi gema itu berulang kali terdengar. Meskipun hanya seekor kucing, namun Nyai merasa perlu mengusirnya, agar ia dapat lebih khusyuk bermunajat. Nyai pun bangkit dan menyusul suara bising itu. Betapa kagetnya Nyai melihat seseorang yang tak ia kenal sedang mengobrak-abrik dapur. Sontak saja Nyai jerit memanggil Romo.

Astagfirullahhalazim... Ayaaaah!!!, pencuriiii!!”.

Kadet yang terlanjur ketahuan, mengambil tindakan yang tak terduga. Ia mencabut sebilah bedil dari pinggulnya lalu melompat ke arah Nyai, dengan sergah menanam dua belas bilah tepat di tembolok Nyai, hingga membuat Nyai ambruk menghantam lantai. Merasa ada yang datang, kadet itu buru-buru lari dan menerobos jendela kaca dapur, ia terbirit semakin jauh, hingga luput dalam kerumunan hutan.

Romo yang menyaksikan istrinya tergeletak tak berdaya, segera memangku dan berusaha membuatnya menyahut. Sayang sekali, jangankan denting periuk atau sedu-isak tangis romo, jumlah sobekan bedil di tubuhnya saja ia sudah tak tahu berapa, mati rasa, raga terbungkus mukena berbalut darah. Dada tak lagi tertib naik-turunnya, kerongkongan lekat tersumpal kuah amis ke asin-asinan. “Jangan pergi sayang, jawab Romo… aaahhhhh”, bergidik cemas tubuh Romo, mendekap istrinya yang perlahan memucat.

Teguh tak lepas dari berita kematian Ibunya. Meski hanya pesan singkat dari Romo, itu sudah mampu menyumbat aliran nadi untuk berhenti sejenak, meremas jantung agar berhenti berdetak, bahkan memancing matahari mudah-mudahan datang menabrak.

Baca Juga:  Hadiah Tahun Ini Masih tentang Perjuangan

Tibalah Teguh sembari memikul hati terkapak duka, dari jauh tampak ia tergopoh-gopoh diikuti rintik air mata. Sejak pagi tadi, pelayat sudah ramai mengerumuni masa depannya mereka. Teguh tanpa menghiraukan itu semua, tunggang-langgang memeluk usungan mayat mataharinya. mula-mula didekatkannya bibir itu di antara kedua alis dan melepuhlah dahi terpanggang hangat ciuman dari Teguh. Teguh terus mengerami ibunya yang telah pucat kedinginan. Sampai setelah diselenggarakan sedemikian sempurna, pun Teguh masih saja mengerami gundukan tanah yang berisikan ibunya itu. sebegitu suram hati Teguh kehilangan sosok ibunda tercinta. Pun Romo demikian, jiwa kesatrianya tidak dapat ia pertahankan.

***

Hari-hari berduka pun telah berlalu, kini datang pula hari yang tak mau kalah untuk ditangisi. Atas kematian istrinya, Romo menjadi tersangka pembunuhan pada malam itu oleh polisi, yang mau tidak mau, perkara ini menarik paksa Romo menuju pengadilan. Senggak tangis Romo kembali terdengar, “Bisa-bisanya mereka menuduh Romo sebagai pembunuh gus!!”.

“Romo tidak usah bersedih, Romo masih punya Teguh, anak seorang kiai yang berenang di sungai persengketaan. Dan di hadapan Romo inilah Teguh akan membuktikan, bahwa sebasah-basahnya kita dengan telaga, kita juga butuh akan melumpur di kubangan yang bapak anggap kotor itu”, Teguh memeluk Romo sembari berusaha menenangkan. “Mari Romo, akan kumenangkan kebenaran sekali lagi untuk Romo”.

***

“Maaf paduka, Hakim. Jendela kaca itu dibanjiri darah, juga terpampang seutas sobekan sarung milik pelaku di sana. Dengan demikian gugatan Pertama saya ajukan: Kiai Angka tidak memiliki sarung yang bercorak motif tersebut, andai kata Kiai Angka membuangnya maka, hal itu dapat dikuatkan dengan gugatan kedua. Kedua: hasil pemeriksaan Kiai Angka dari pihak Paduka Hakim. Sendiri tidak menemukan luka goresan kaca di tubuh Romo alias Angka, Terima Kasih”.

Baca Juga:  Memendam Dendam

“Bungkam!!, bungkam!!, bungkam!!”

Baca juga: Memendam Dendam

Hikmah: Agamawan bukan berarti fanatik terhadap agama. Karena fanatisme dapat memicu kebencian terhadap kelompok atau individu yang memiliki pandangan berbeda. Ini dapat menghasilkan konflik dan pertentangan yang merugikan masyarakat secara keseluruhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *