Hadiah Tahun Ini Masih tentang Perjuangan

perjuangan demokrasi

Renjana mengajak Wuni ke perpustakaan kota dengan menggunakan angkutan umum. Di tengah-tengah perjalanan, mereka layaknya dua orang sahabat yang sering sekali menceritakan kehidupannya. Tetapi, mereka lebih sering menceritakan pelajaran yang didapatkannya dari sekolah. Begitulah mereka disatukan. Sama-sama haus akan pengetahuan, sama-sama memiliki cita-cita yang tinggi.

“Kiri, Pak!” Renjana memberhentikan laju angkutan umum.

Saat sampai di perpustakaan kota, Renjana mengajak Wuni pergi mengelilingi seluruh ruangan perpustakaan. Tidak ada satu pun ruangan yang terlewat, dan tidak satu pun buku yang dipinjam mereka. Saat sampai di taman baca, satu ruangan umum yang nyaman di sana, mereka duduk dan kembali mengobrol.

“Kenapa kamu mau datang ke perpustakaan jika tidak ada buku yang dipinjam?” Renjana yang lebih dulu menanyakan.

“Aku pinjam setelah kita selesai mengobrol,” tukas Wuni.

“Oh, soal waktu. Aku terkesan dengan kamu yang selalu penasaran mencari jawaban, Ni. Kenapa kamu tidak langsung mencari buku untuk mencari jawaban? Bahkan kamu memilih mengobrol denganku. Eh, berdiskusi tepatnya.” Renjana melontarkan pertanyaan yang sedikit membuat Wuni jengkel.

“Kalau tidak mau memberikan jawaban, ya sudah. Aku akan cari buku sendiri, dibaca sendiri, dan menyimpulkan sendiri!” Wuni menjawab sedikit ketus campur sikap manjanya.

“Aku bercanda, Ni. Aku paham, lontaran pertanyaanmu yang menjadi tema diskusi itu sebenarnya juga menjadi alasan agar kita lama mengobrol, kan? Hehe.” Renjana sedikit menggoda memancing kembali rasa jengkel Wuni.

Di balik sifat realistisnya, tetap saja Wuni ditaklukkan oleh realita itu sendiri.

“Enak saja, kamu! Kamu itu satu-satunya teman laki-laki yang pintar ngomong, nyambung aja kalau diajak diskusi. Pemikiranmu itu ibarat gelembung, semakin ditiup, semakin berisi angin. Makanya, aku harus meniupnya agar kamu menggelembung, tidak terus-terusan kempis,” celetuk Wuni.

Baca Juga:  Membiarkan Belum Tentu Melupakan

“Kempis katanya. Kalaupun iya kempis, gak harus ditiup juga kali; iya kalau kamu kuat niup, kalau tidak kan repot. Hehe. Canda Niii.” Bantah Renjana dengan maksud tidak ingin kalah dari Wuni.

“Soal waktu, aku semakin percaya jika waktu adalah kehidupan. Hal sama yang terpikirkan olehmu saat waktu istirahat, aku memikirkannya saat sebelum kita berada di sini.” Renjana menyambung percakapannya.

“Nah, begitu kan enak. Langsung dijawab,” celetuk Wuni memotong penjelasan Renjana. Tapi Renjana sudah begitu serius berbicara. Begitulah karekter Renjana. Jika ia serius, pasti serius.

“Aku sambung dulu ya, Wuni. Aku pikirkan hal yang berbeda. Jika perbedaan itu ada pada ‘waktu’ dan ‘jam’ sekalipun, akan ada banyak perdebatan. Itu hanya istilah saja. Aku hanya sadar jika ‘waktu’ adalah benar-benar kehidupan kita. Tepatnya, waktu adalah bagian darinya, yang selalu mengitari dan mengelilingi kita. Saat aku menanyakan ‘jam berapa?’, saat itu juga kita menyadari waktu. Menyadari waktu sama saja menyadari kehidupan kita sendiri, berarti kita peduli dengan waktu itu sendiri.”

“Ada hal yang sebenarnya ingin ku sampaikan, Ni; masih mencoba mengartikan waktu. Usia kita saat ini 18 tahun. Usia yang masih muda, belum terlalu matang dikatakan dewasa. Banyak hal juga yang belum kita tempuh. Yang aku sadari adalah, bahwa dewasa bukan soal usia. Dan usia tidak bisa menentukan kedewasaan. Bahkan, orang tuaku sendiri menyebut diriku sudah ‘dewasa’. Kesimpulanku hanya pada pola pikir saja. Setiap tindakan juga bisa menentukan. Aku merasa, waktu tidak memaksa menuntut kita menjemputnya, kesadaran kita sedang diuji mau tau tidak, cepat atau lambat akan menjemputnya. Waktu tidak datang dengan sendirinya.”

Baca Juga:  NIR

Aku menganalogikan waktu dengan stasiun kereta. Laju kereta akan menentukan cepat atau tidaknya sampai ke stasiun yang kita ingin tuju (red: jemput). Gerbong kereta adalah replika dari detik, menit, jam, sampai kepada tahun. Kita tak bisa memaksa kereta melaju sekencang yang kita mau, karena ada masinis yang sudah mengatur lajunya. Jika ingin cepat sampai ke tujuan, fokuskan diri dengan apa yang menjadi tanggung jawab di kereta. Jangan keluar apalagi melompat ke luar jendela. Pemahamanku soal waktu akan menjadi buruk jika saat keluar dari kereta, tidak bisa menghasilkan apa-apa. Ah, itu sangat panjang jika menyadarinya.” Renjana mencoba mengurai pemahamannya soal waktu.

“Lalu, waktu dan jam apa benar-benar hal yang berbeda?” Wuni menanyakan kembali perbedaannya.

“Tidak juga, tapi tetap ada perbedaannya. Karena kamu bertanya ‘hal yang berbeda’. Perbedannya adalah pada gerbong kereta itu, apakah benar-benar mengantarkan ke stasiun yang menjadi tujuan atau tidak. Gerbong kereta semua sama, tapi tidak tujuannya. Aku memiliki tujuan, kamu memiliki tujuan. Jangan heran jika suatu saat kamu berada di gerbong yang tidak sama. Kesamaannya adalah laju kereta tersebut, yang kemudian disebut detik, menit, dan seterusnya. Kamu memahaminya kan, Ni?” Pertanyaan yang menjadi petanda uraiannya berakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *