Hadiah Tahun Ini Masih tentang Perjuangan

perjuangan demokrasi

“Tadi, saat Pak Sholeh menjelaskan soal waktu, aku menjadi bertanya-tanya. Kira-kira apakah waktu akan tetap mengelilingi kita walaupun tidak ada istilah detik, menit, jam, dan lain-lain? Menurut Pak Sholeh, waktu itu kehidupan kita sendiri.”  Seperti biasa, Wuni sering memulai diskusi, entah ia haus ilmu atau memang sengaja menjadikan Renjana rekan diskusi yang paling dapat ia andalkan.

“Ini jam berapa, Wuni?” Tanya Renjana.

“Jam 9.40.”

“Lima menit lagi menunjukkan pukul 09.45, petanda bel tanda masuk berbunyi. Lalu, apa yang mau kita manfaatkan dalam waktu lima menit ini?”

“Kok tidak langsung dijawab, malah balik tanya!” Wuni menghela napas, dan berpikir sejenak. “Apa maksudmu bertanya itu? Aku lebih memilih memanfaatkan waktu lima menit itu berdiskusi, lah” Tandasnya.

“Aku hanya tanya, Ni. Kamu tanya soal ‘waktu’, aku tanya soal ‘jam’. Apakah ada perbedaan? Menurutku tidak. Lalu apa yang kamu persoalkan? Pak Sholeh itu mengatakan jika ‘waktu itu kehidupan kita sendiri’ bukan untuk dipersoalkan.” Renjana ikut merumuskan pernyataan Pak Sholeh.

“Tapi ya, Na. Coba kamu pikir, Pak Sholeh juga berpendapat jika ‘waktu’ dan ‘jam’ itu berbeda. Tapi kenapa kamu menganggap sama? Apa alasanmu?” Wuni mencoba menguji pendapat Renjana soal tema diskusinya.

“Aku tidak menganggapnya sama, aku mengatakannya tidak ada perbedaan. Tidak ada perbedaan bukan berarti sama, Ni. Begini saja, kita sama-sama siswa kan? Tapi tetap berbeda. Berbeda jenis kelamin, hehe. Kita tidak ada perbedaan jika menggunakan istilah ‘pelajar’, tapi tidak sama jika menggunakan siswa. Sekarang kan ada istilah yang sudah membedakan, kamu siswi, aku siswa. Bukankah begitu?”

“Artinya, tidak setiap yang sama adalah tidak ada perbedaan. Begitu sebaliknya. Kita menggunakan seragam yang sama, itu benar. Seragam kita tidak ada perbedaan, bisa benar, bisa tidak. Begitulah realitanya. Istilah ‘sama’ itu hampir dikatakan mutlak tidak ada perbedaan, tapi istilah ‘tidak ada perbedaan’ pasti akan ada celah mencari titik perbedaannya, walaupun secara kasat mata itu sama.” Renjana mulai menggunakan retorikanya saat berdiskusi dengan Wuni. Renjana sering melakukannya, itu karena Wuni harus diyakinkan dengan penggunaan ‘istilah’ terlebih dahulu.

Baca Juga:  Merindu

“Kriiing… Kriiing…” Suara bel berbunyi, menunjukkan waktu jam berikutnya telah tiba.

“Sudah waktunya masuk, Ni. sepulang sekolah nanti, aku ingin mengajakmu ke perpustakaan kota. Kamu mau ikut?”

“Yah, belum ada jawaban juga. Okelah, ajakanmu ke perpustakaan kota aku terima dengan satu syarat. Kamu harus bisa melanjutkan jawabanmu ya!” Wuni sedikit menantang Renjana untuk melanjutkan diskusinya.

“Oke, siapa takut. Intinya, kamu mau ikut ke perpustakaan kota sama aku,” kata Renjana meyakinkan Wuni.

Jam menunjukkan pukul 11.30. Saat itu hari Sabtu, dan menjelang Ujian Akhir Semester (UAS). Wajar jika sekolah tidak berlangsung lama. “Kriing… Kriiing… Kriiing…” Bel berbunyi tiga kali, petanda sekolah pada hari itu selesai. Para siswa di sekolah pun berhamburan keluar utnuk pulang. Sebagian ada yang langsung pulang ke rumah, sebagian yang lain memilih untuk main. Wuni dan Renjana menepi dan kembali mengobrol. Mereka saling menagih janji.

“Sudah ada jawaban, kan?” Tanya Wuni lebih dulu.

“Aku tidak berjanji jawaban itu akan memuaskanmu, Ni. Tapi, jawabanku akan mengantarkanmu ke perpustakaan kota sekarang juga.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *