Hadiah Tahun Ini Masih tentang Perjuangan
“Iya, Na. Aku sudah mulai sedikit memahami soal waktu. Aku hanya sering merasa takut dengan waktu. Aku sering merasa terjebak dengan persoalan waktu itu sendiri. Apalagi soal usia. Bukankah wajar sebagai manusia berpikir idealismenya di usia segini aku harus begini, usia sekian aku harus begini? Yaa, lumayan membuat aku terkungkung soal waktu.” Wuni sedikit mengeluhkan persoalan dirinya berdialog dengan waktu.
“Soal itu, kamu jangan terlalu mengkhawatirkan. Kamu khawatir dengan waktu sama saja kamu merasa pesimis. Yang dibutuhkan manusia itu hanya usaha memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Kamu berhak memiliki target, tapi kamu tidak bisa menentukan target itu akan benar-benar terjadi,” imbuh Renjana menjelaskan.
“Menurutmu, apa cinta adalah hal yang juga diusahakan walaupun waktu itu masih menjadi misteri?” Wuni berkata gugup saat menanyakan itu karena kekhawatirannya. Ia teringat seseorang yang sudah mengungkapkan cinta kepada dirinya, salah seorang kakak kelasnya yang kini duduk di bangku kuliah, Juna namanya.
“Oh, dia. Aku tahu kamu menolaknya karena alasan belum siap menerima. Memang benar. Apakah juga kamu peduli dengan perjuangan yang akan Juna lakukan? Minimal kamu akan tahu seberapa benar dia mengungkapkan cintanya, kan?” Renjana menenangkan.
“Lupakan saja lah. Yang penting sekarang aku akan lebih bisa menghargai waktu. Waktu bagiku sekarang adalah perjuangan. Setiap perjuangan berhak juga untuk dihargai”. Wuni menyimpulkannya sendiri.
Kesimpulan Yuni menjadi jawabannya sendiri memahami waktu. Kesimpulannya menjadi tanda kunjungan mereka ke perpustakaan kota juga berakhir. Sebelum Wuni pulang ke rumah, Renjana berpesan kepada Wuni, “Wuni, saat kamu mengerti tentang waktu. Aku menjadi yakin akan perjuanganku selanjutnya.”
Pesan itu menyiratkan hal luar biasa bagi Renjana. Kedekatannya dengan Wuni menjadi teka-teki yang suatu saat akan ia ungkapkan. Wuni masih akan tetap menganggap kedekatannya dengan Renjana akan biasa-biasa saja, tapi Renjana pasti akan menunjukkan perjuangan yang sesungguhnya agar ‘cinta’ benar-benar waktu yang nyata sebagai bentuk perjuangan.
Baca Juga: Indonesia Dalam Bus Kota
Penulis : Taftazani Ahmad


